Exhibition Series 2026 GIK UGM
- 25 June 2026 21:19 WIB
Pameran karya seniman neurodivergen. Pengunjung mengamati karya pada pameran Jejak Warna di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (2/8/2026). Pameran tersebut menghadirkan 46 karya dari 32 seniman neurodivergen, yakni individu dengan autisme, ADHD, disleksia, dispraksia, dan kondisi neurologis lainnya, sebagai upaya memperluas pemahaman masyarakat tentang neurodiversitas sekaligus menegaskan seni sebagai ruang yang inklusif bagi setiap individu. ANTARA FOTO/Rahid Putra Laksana.
Pameran karya seniman neurodivergen. Pengunjung memotret karya pada pameran Jejak Warna di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (2/8/2026). Pameran tersebut menghadirkan 46 karya dari 32 seniman neurodivergen, yakni individu dengan autisme, ADHD, disleksia, dispraksia, dan kondisi neurologis lainnya, sebagai upaya memperluas pemahaman masyarakat tentang neurodiversitas sekaligus menegaskan seni sebagai ruang yang inklusif bagi setiap individu. ANTARA FOTO/Rahid Putra Laksana.
Pameran karya seniman neurodivergen. Pengunjung mengamati karya pada pameran Jejak Warna di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (2/8/2026). Pameran tersebut menghadirkan 46 karya dari 32 seniman neurodivergen, yakni individu dengan autisme, ADHD, disleksia, dispraksia, dan kondisi neurologis lainnya, sebagai upaya memperluas pemahaman masyarakat tentang neurodiversitas sekaligus menegaskan seni sebagai ruang yang inklusif bagi setiap individu. ANTARA FOTO/Rahid Putra Laksana.
Pameran karya seniman neurodivergen. Para seniman berfoto di depan karya pada pameran Jejak Warna di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (2/8/2026). Pameran tersebut menghadirkan 46 karya dari 32 seniman neurodivergen, yakni individu dengan autisme, ADHD, disleksia, dispraksia, dan kondisi neurologis lainnya, sebagai upaya memperluas pemahaman masyarakat tentang neurodiversitas sekaligus menegaskan seni sebagai ruang yang inklusif bagi setiap individu. ANTARA FOTO/Rahid Putra Laksana.