Peserta SMN dapat pelatihan jurnalistik tangkal hoaks

id Siswa Mengenal Nusantara

Jurnalis senior Perum LKBN Antara Biro Jawa Tengah Nur Istibsaroh (berdiri) saat memberikan pelatihan jurnalistik kepada peserta Program Siswa Mengenal Nusantara (SMN) 2019 dari Jateng. (Foto:Wisnu Adhi)

Semarang (ANTARA) - Para pelajar yang menjadi peserta Program Siswa Mengenal Nusantara (SMN) 2019 dari Provinsi Jawa Tengah mendapat pelatihan jurnalistik dari Perum LKBN Antara Biro Jawa Tengah untuk menangkal berita maupun informasi bohong (hoaks).

"Prinsip '5W+1H' (what, who, where, when, why, dan how) sebagai dasar jurnalistik bisa untuk mendeteksi suatu berita atau informasi itu benar atau tidak," kata jurnalis senior Perum LKBN Antara Biro Jawa Tengah Nur Istibsaroh saat memberikan pelatihan jurnalistik kepada peserta SMN 2019 di Gedung Terpadu PT Angkasa Pura I, kompleks Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang, Selasa.

Selain itu, bersikap kritis terhadap berita atau informasi yang diterima juga bisa mengantisipasi penyebaran hoaks di masyarakat.

"Paling tidak kita bisa bersikap kritis terhadap info-info yang tidak jelas," ujarnya di hadapan 22 peserta SMN asal Provinsi Jateng yang akan diberangkatkan ke Kota Manado, Sulawesi Utara, pada 14-22 Agustus 2019.

Dalam pelatihan yang dimoderatori Kepala Perum LKBN Antara Biri Jateng Achmad Zaenal Muttaqin itu, salah seorang peserta SMN dari SMA Negeri 1 Sragen, Graceline, menanyakan mengenai kode etik jurnalistik yang diperlukan agar menghasilkan tulisan yang menarik.

Menjawab hal itu, Nur Istibsaroh menjelaskan bahwa seorang jurnalis harus mematuhi kode etik jurnalistik dalam menjalankan tugas-tugasnya.

"Tiap jurnalis dilindungi oleh undang-undang dalam menjalankan tugasnya, dan harus profesional, berimbang, tidak boleh membuat berita bohong, sadis atau cabul, tidak menyiarkan identitas maupun alamat korban perkosaan secara gamblang, serta tidak boleh menyalahgunakan profesinya untuk mendapat keuntungan pribadi," katanya.

Selain pelatihan jurnalistik, peserta SMN 2019 dari Provinsi Jateng juga mendapat pembekalan mengenai penggunaan media sosial Youtube dari seorang dokter bernama Nisrina Darin Nahda yang juga aktif sebagai "youtuber".

"Menjadi 'youtuber' bisa menjadi lahan kreatifitas dan sarana kebebasan berekspresi yang bisa mendatangkan keuntungan positif, termasuk finansial, serta bisa menginspirasi orang lain," ujarnya.

Agar jumlah pengakses dan "followers" akun Youtube terus bertambah, lanjut dia, maka yang bersangkutan harus kreatif dan konsisten dalam mengunggah konten-konten yang menarik.

Program SMN merupakan kegiatan pertukaran pelajar di Indonesia yang diinisiasi oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan difasilitasi seluruh BUMN yang memiliki wilayah kerja di 34 provinsi. Tujuannya untuk menanamkan rasa bangga dan cinta tanah air sejak dini kepada siswa SMA/SMK/SLB yang terpilih menjadi peserta.

Keragaman kekayaan nusantara dan potensi daerah diperkenalkan melalui interaksi langsung siswa dengan komponen pemerintahan dan masyarakat di provinsi yang dikunjungi selama beberapa hari.

Baca juga: 23 Siswa Mengenal Nusantara mendapat pelatihan dunia jurnalistik
Baca juga: Peserta SMN Gorontalo ikuti pelatihan jurnalistik
Baca juga: Dindik Babel: SMN mampu bangun karakter pelajar
 

Pewarta : Wisnu Adhi Nugroho
Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar