Legislator sayangkan Kemenkes belum siapkan visi Presiden

id Visi Presiden,Pembangunan Kesehatan,Nova Riyanti Yusuf,Kementerian Kesehatan,kemenkes

Anggota Komisi IX DPR RI Nova Riyanti Yusuf usai menghadiri bedah buku Jiwa Sehat Negara Kuat di Unika Atmajaya Jakarta, Selasa (13/8/2019). (ANTARA/Aditya Ramadhan)

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi IX DPR RI Nova Riyanti Yusuf menilai Kementerian Kesehatan belum menyiapkan formula untuk mewujudkan visi pembangunan kesehatan Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia ke depan.

"Yang saya sayangkan adalah visi misinya sudah benar, tapi pemerintah selama lima tahun terakhir tidak menyiapkan itu," kata Nova usai acara bedah buku Jiwa Sehat, Negara Kuat di Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, Selasa.

Menurut Nova yang juga akrab disapa Noriyu, seharusnya Kementerian Kesehatan sudah bisa memberikan formulasi tentang bagaimana cara-cara tepat untuk mengatasi kekerdilan pada anak, menghapuskan kematian ibu dan bayi, dan hal lainnya seperti yang diungkapkan oleh Presiden Joko Widodo saat memaparkan visi misi pemerintah 2019-2024.

Namun Nova berpendapat pemerintah sekarang ini belum memiliki rencana yang jitu untuk mewujudkan Indonesia bebas kekerdilan, bebas dari kematian ibu dan bayi saat melahirkan, serta bebas dari gizi buruk.

Nova yang merupakan anggota DPR Pengganti Antar Waktu (PAW) dari Partai Demokrat yang menggantikan Vena Melinda mengatakan, sebenarnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa dalam pasal 65 (3) sudah mengamanatkan pemerintah untuk membentuk atau menunjuk Pusat Penelitian Pengembangan dan Teknologi.

Pusat penelitian tersebut memiliki tujuan membuat formulasi untuk mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia ke depan.

"Platform lewat UU Kesehatan Jiwa sudah dibuat, pasal 65 ayat 3 menteri menunjuk Pusat Penelitian Pengembangan dan Teknologi. Tujuanya apa, di situ harusnya sudah dibuat formulasi SDM ke depan itu bagaimana kita mau membina mereka memberdayakan mereka," jelas Noriyu.

Nova yang pernah menjabat anggota DPR periode 2009-2014 tersebut mengambil contoh kasus hasil penelitian disertasinya yang menyebutkan sebanyak 210 remaja atau 13,28 persen dari sampel penelitiannya rentan untuk berpikir bunuh diri.

Dia juga menyebut angka global tentang orang yang berpikir untuk bunuh diri rata-rata pada usia 20 tahun, yang merupakan generasi emas Indonesia saat ini dan nantinya akan menjadi pemimpin Indonesia di masa mendatang. Akan tetapi generasi emas tersebut, berdasarkan penelitian S3 Nova, rentan untuk berpikir bunuh diri.

"Kita menumpukan masa depan Indonesia pada mereka, generasi penerus, tapi kita tidak memelihara kesehatan jiwa mereka. Seharusnya dari pusat penelitian tadi sudah bisa dirumuskan," kata dia.

Nova yang juga merupakan dokter spesialis kesehatan jiwa mengatakan para pemimpin Indonesia saat ini bertanggung jawab untuk mempersiapkan para pemuda menjadi SDM yang berkualitas agar bisa memajukan Indonesia di masa datang.

"Mereka yang jalankan roda pemerintahan, kita yang harus bertanggung jawab mempersiapkan mereka," kata Nova.

Baca juga: Kemenkes arsipkan catatan kesehatan untuk kebijakan strategis
Baca juga: Rencana strategis kesehatan fokus pada upaya preventif
 

Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar