KEIN minta perbankan memudahkan akses likuiditas UMKM

id kur, umkm,kein

Wakil Ketua Komite Industri Ekonomi Nasional (KIEN) Arief Budimanta saat diwawancarai di Jakarta, Kamis (15/8/2019). (ANTARA/Sugiharto Purnama)

Jakarta (ANTARA) - Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN) meminta perbankan agar mempermudah usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dalam mengakses likuiditas sebagai modal pengembangan bisnis.

"Dengan kemudahan bunga kredit usaha rakyat (KUR) sebesar 7 persen, kami berharap dari sisi akses likuiditas lebih diberikan kepada UMKM dan super mikro," kata Wakil Ketua KEIN Arief Budimanta di Jakarta, Kamis.

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, total realisasi penyaluran KUR dari Agustus 2015 hingga 31 Mei 2019 tercatat sebesar Rp398,9 triliun dengan outstanding Rp149,5 triliun, dan non performing loan (NPL) 1,35 persen.

Penyaluran KUR tersebut masih didominasi untuk skema KUR Mikro sebesar 65,1 persen diikuti dengan skema KUR Kecil 34,58 persen dan KUR tenaga kerja Indonesia sebesar 0,35 persen.

Arief menjelaskan saat ini proporsi likuiditas belum seimbang, yakni 20 persen untuk UMKM dan 80 persen untuk sektor usaha besar. Padahal, menurut dia, sektor usaha kecil memiliki peranan penting dalam perekonomian masyarakat Indonesia karena mampu memberikan dampak secara langsung ke level bawah.

"Secara perlahan kami mengharapkan proporsinya bisa meningkat untuk UMKM mencapai 30 sampai 40 persen," ujarnya.

Sementara itu merujuk data Kementerian Koperasi dan UMKM, sebanyak 98,7 persen usaha di Indonesia merupakan usaha mikro yang berkontribusi sebanyak 36,82 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

"Dari sisi jumlah UMKM ada banyak dan dari sisi kontribusi perekonomian juga tinggi kurang lebih 60 persen," kata Arief.

Baca juga: Sulit cari peminjam, penyaluran KUR Sumatera Selatan tak capai target

Baca juga: Realisasi KUR peternakan 2019 capai Rp3,42 triliun

Baca juga: Pameran peternakan 2019 tampilkan paviliun KUR bagi peternak


 

Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar