Warga keturunan Tionghoa Belitung gelar tradisi sembahyang rebut

id sembahyang rebut,chit ngiat pan,warga tionghoa belitung

Warga keturunan Tionghoa melaksanakan tradisi sembahyang rebut di sebuah kelenteng di Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Jumat (6/8/2019). (ANTARA/Kasmono)

Belitung (ANTARA) - Warga keturunan Tionghoa di Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menggelar tradisi Chit Ngiat Pan atau sembahyang rebut pada Jumat, bertepatan dengan tanggal 15 bulan tujuh dalam kalender Imlek yang diyakini sebagai hari pintu akhirat terbuka dan arwah-arwah turun ke bumi.

"Chit Ngiat Pan atau sembahyang rebut adalah tradisi leluhur kami yang diwariskan hingga saat ini," kata Marto, Ketua Harian Kelenteng Hok Tek Che, di Tanjung Pandan.

Ia menjelaskan, tanggal 15 bulan tujuh dalam kalender Imlek dikenal dengan istilah Chit Ngiat Pan, waktu untuk melaksanakan sembahyang pertengahan bulan ketujuh atau sembahyang rebut.

"Warga Tionghoa melaksanakan sembahyang bersama di sini," katanya, menambahkan, acara puncak persembahyangan itu meliputi pembakaran patung beserta benda miniatur.

Warga keturunan Tionghoa sudah memadati kelenteng Hok Tek Che di pusat kota Tanjung Pandan sejak dini hari. Warga sekitar juga mendatangi kelenteng untuk menyaksikan dan meramaikan tradisi perebutan barang dan makanan yang sudah disiapkan oleh panitia.

"Kami mempersiapkan acara ini sekitar tiga bulan lalu dengan membuat miniatur patung terlebih dahulu dan menyusun konsep acara," kata Marto.

Ia mengatakan, pada acara puncak perayaan Chit Ngiat Pan panitia juga melaksanakan kegiatan sosial berupa pembagian bahan pangan pokok kepada warga kurang mampu.

"Bagi seorang Tionghoa setelah melaksanakan sembahyang rebut ini harapannya adalah pada setahun berjalan ini dapat aman, damai, tenteram, untuk negara dan masyarakat," katanya.

Edy Sutono, seorang warga keturunan Tionghoa, mengatakan bahwa tradisi sembahyang rebut juga merupakan potret kerukunan antar-umat beragama.

"Bisa kita lihat dari berbaurnya masyarakat lokal dengan warga Tionghoa, walaupun berbeda etnis tidak ada perbedaan, semuanya saling menyatu," katanya.

Menurut dia, warga sekitar yang berbeda keyakinan juga membantu panitia menyelenggarakan prosesi sembahyang rebut.

"Tadi bisa kita lihat ada yang membantu mengangkat patung dan peralatan lainnya. Jadi semoga ini bisa dilestarikan dan menjadi warisan budaya bagi generasi selanjutnya," katanya.

Baca juga: Bakcang dan Lamang Baluo satukan Etnis Minang dan Tionghoa di Padang
 

Pewarta : Kasmono
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar