LIPI kukuhkan empat profesor riset

id Laksana tri handoko,Profesor riset,Lipi

Ketua Majelis Profesor Riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bambang Subianto menyerahkan Widyamala kepada salah satu profesor riset yang dikukuhkan di Jakarta, Selasa (20/8). (ANTARA News/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Jakarta (ANTARA) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali mengukuhkan empat orang penelitinya menjadi Profesor Riset yang masing-masing berasal dari bidang keilmuan kimia organik, biokima, teknik kimia dan teknik lingkungan.

"Gelar ini bukan merupakan puncak capaian dan sama sekali tidak memberikan hak keistimewaan tapi justru memunculkan kewajiban, tanggung jawab moril yang luar biasa untuk memajukan aktivitas riset untuk lebih membanggakan," kata Kepala LIPI Laksana Tri Handoko dalam sambutannya pada acara Orasi Pengukuhan Profesor Riset di Auditorium Utama LIPI Jakarta, Selasa.

Empat peneliti yang dikukuhkan tersebut adalah Dr. Ir. Nina Artanti, M. Sc, Dr. Jamilah, M. Si, Dr. Anny Sulaswatty,
M. Eng, yang mana ketiganya merupakan peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI, dan Dr. Ignasius Dwi Atmana Sutapa dari Pusat
Penelitian Limnologi LIPI.

Hingga saat ini, LIPI telah mengukuhkan 134 profesor riset, namun yang aktif sekarang tidak sampai 60 profesor riset.

Dalam orasi ilmiah berjudul "Peran Uji Bioaktivitas untuk Penelitian Herbal dan Bahan Aktif untuk Obat Berbasis Keanekaragaman Hayati", Nina Artanti mengatakan pengalaman historis manusia dengan tumbuhan sebagai bahan terapi telah membantu memperkenalkan
senyawa kimia tunggal dalam pengobatan modern yang ada sekarang.

"Uji bioaktivitas merupakan salah satu tahapan penting baik untuk pembuktian ilmiah khasiat herbal ataupun dalam penemuan dan pengembangan obat," ujarnya.

Ada berbagai macam uji bioaktivitas yang dapat dimanfaatkan yaitu bioaktivitas antioksidan, antidiabetes, sitotoksik dan antibakteri.

Sementara Jamilah menyampaikan orasi ilmiah berjudul "Penemuan Senyawa Aktif Baru dari Calophyllum spp sebagai Bahan Baku Obat Antikanker dan Antimalaria".

Jamilah menuturkan kanker merupakan penyebab kematian dan kejangkitan yang terbesar di dunia dibandingkan penyakit lain, dan jumlahnya meningkat hingga 70 persen dalam dua dekade.

Sementara malaria adalah penyakit infeksi yang mematikan nomor lima setelah penyakit infeksi saluran nafas, HIV/AIDS, diare, dan TBC.

Jamilah mengatakan tumbuhan Calophyllum spp mempunyai potensi sebagai sumber bahan baku obat kanker dan malaria.

Dia mengatakan Calophyllum mengandung senyawa santon, kumarin, biflavonoid, benzofenon dan neoflavonoid, triterpen, dan steroid yang memiliki aktivitas antiimflamasi, antijamur, antihipoglikemia, antiplatelet, antitumor, antimalaria dan antibakteri serta antiTBC.

Menurut Jamilah, peluang Calophyllum untuk pengembangan obat antikanker dan antimalaria sebagai pengganti obat impor masih terbuka lebar.

Di orasi berjudul "Penerapan Teknologi Non-Konvensional dalam Ekstraksi Komponen Utama Atsiri dan Produk
Turunannya di Indonesia", Anny Sulaswatty mengatakan pentingnya memperluas penerapan penelitian fraksinasi, pemurnian, serta perbaikan teknologi ekstraksi untuk meningkatkan nilai jual produk minyak atsiri.

"Riset dan pengembangan teknologi non-konvensional perlu diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah minyak atsiri Indonesia sebagai bahan baku pembuatan produk pangan, food additives, serta perasa makanan," ujar Anny.

Anny menuturkan pemanfaatan teknologi non-konvensional perlu diimplementasikan melalui kerjasama dengan industri, salah satunya telah dilakukan pengembangan green-additives berbasis turunan minyak atsiri yang dapat menurunkan kadar air dalam solar hingga 15 persen dan menghemat bahan bakar hingga 8 persen.

Sementara Ignasius Dwi Atmana Sutapa dalam orasi berjudul "Pengembangan Instalasi Pengolahan Air Gambut (IPAG60)
sebagai Sarana Pemenuhan Hak Dasar Masyarakat Atas Air di Daerah Gambut" mengungkapkan ketiadaan sumber air bersih serta kurangnya pengetahuan mengenai dampaknya terhadap kesehatan memaksa masyarakat yang tinggal di wilayah gambut menggunakan air gambut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ignasius menyatakan IPAG60 menjadi alternatif teknologi untuk mengolah berbagai jenis air gambut menjadi air bersih atau minum yang memenuhi standar kesehatan.

"Hasil uji terhadap kualitas air menunjukkan bahwa air produksi IPAG60 memenuhi standar air golongan A," ujarnya.

Baca juga: LIPI kukuhkan tiga profesor riset
Baca juga: LIPI kukuhkan profesor riset badan litbang kehutanan
Baca juga: LIPI kukuhkan tiga profesor riset baru


 
 

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar