Jaksa Agung Prasetyo diberi gelar kedatuan "Pemban Agung Hamadaning"

id gelar kedatuan,kedatuan sasak,jaksa agung,Pemban Agung Hamadaning

Jaksa Agung Muhammad Prasetyo (tengah) yang mengenakan pakaian adat Sasak didampingi Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalillah (kiri), dalam acara peresmian pembangunan gedung Kejati NTB dan Kejari Mataram, Jumat (23/8/2019). (ANTARA/Dhimas BP)

Mataram (ANTARA) - Jaksa Agung Muhammad Prasetyo mendapat gelar kedatuan Sasak "Pemban Agung Hamadaning" ketika hadir dalam acara peresmian pembangunan gedung Kejati NTB dan Kejari Mataram, Jumat (23/8).

Gelar kedatuan Sasak diberikan oleh Raja Siledendeng, Lalu Putria yang juga masih menjabat sebagai Kepala Disbudpar Lombok Tengah.

"Makna dari gelar ini adalah seorang raja yang arif dan bijaksana, tanpa pandang bulu," kata Raja Siledendeng.

Pemberian gelar kedatuannya, ditandai dengan memasangkan pakaian adat Sasak yang hampir sama seperti dikenakan Presiden Joko Widodo dalam Sidang Bersama DPD-DPR 2019 pada Jumat (16/8) lalu di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta.

Baca juga: Prasetyo: Tak masalah jaksa agung bukan dari parpol

Untuk pakaian adat yang dikenakan Jaksa Agung terdiri dari "sapuq" (ikat kepala), "leang" (kain penutup bagian luar) dan "selepan" (senjata tajam yang diselipkan di leang).

Jaksa Agung Muhammad Prasetyo Bersama rombongan dari Jakarta, tiba di lokasi pembangunan gedung yang berada di tengah Kota Mataram, pada Jumat (23/8) pagi, dengan disambut lantunan musik tradisional khas Suku Sasak, yakni Gendang Beleq.

Wakil Gubernur NTB Sitti Rohmi Djalilah, Kapolda NTB Irjen Pol Nana Sudjana, Wali Kota Mataram Ahyar Abduh, dan sejumlah pejabat jajaran instansi pemerintahan serta aparat penegak hukum di lingkup kerja NTB turut menyambut kedatangan rombongan Jaksa Agung.

Jaksa Agung meresmikan pembangunannya ditandai dengan melakukan penandatangan prasasti untuk gedung Kejati NTB dan Kejari Mataram.

Baca juga: Surya Paloh: Jaksa Agung nonpartai bisa lebih bobrok juga

Pewarta : Dhimas Budi Pratama
Editor: Ridwan Chaidir
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar