Rusia tidak tertarik kembali bergabung ke G7

id Rusia,G7,G8,Donald Trump,Amerika Serikat,Dubes Rusia

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva menyampaikan taklimat media di Jakarta, Rabu (4/9/2019). ANTARA/Yashinta Difa/am.

Jakarta (ANTARA) -

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva menyatakan negaranya tidak tertarik untuk kembali bergabung dalam Kelompok Tujuh (G7).

Menurut Lyudmila, Rusia tidak pernah meminta atau mengusulkan diri untuk kembali bergabung bersama G7, yang semula disebut Kelompok Delapan (G8) sebelum keanggotaan Rusia dihentikan pada 2014 akibat pecahnya krisis Ukraina.

“Kami tidak lagi tertarik dengan format ini. Menurut kami, banyak format lain yang lebih relevan, misalnya G20 untuk (membahas) isu-isu global,” kata Lyudmila dalam taklimat media di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Pejabat: Uni Eropa tolak kembalinya Rusia ke KTT G7

Baca juga: Macron: Kembalinya Rusia ke G8 harus dapat selesaikan krisis Ukraina


Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendukung kembalinya Rusia ke kelompok negara termaju dunia itu dan menyalahkan pendahulunya atas dikeluarkannya Rusia dari G8.

Agustus lalu, Trump menyatakan bahwa kelompok tersebut seharusnya bernama G8 karena banyak hal yang dibicarakan berhubungan dengan Rusia.

Trump mengatakan bahwa G7 yang beranggotakan Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Britania Raya, dan AS, memiliki "dunia untuk dijalankan," dan Rusia harus berada di meja perundingan.

Baca juga: AS dikritik habis-habisan oleh G7

Baca juga: Putin: Rusia akan berusaha keras perbaiki hubungan dengan AS

Menanggapi pernyataan Trump, Dubes Lyudmila menegaskan bahwa Rusia tidak akan kembali bergabung dengan G7, meskipun ia mensyukuri bahwa “saat ini akal sehat mulai berjalan”.

“Pembahasan selama pertemuan G7 hanya menyoroti bahwa banyak masalah global yang tidak dapat diselesaikan tanpa partisipasi Rusia. Pembicaraan mengenai Rusia yang terisolasi dan sanksi yang diberlakukan kepada Rusia, semuanya sia-sia,” kata Lyudmila.

Rusia dikeluarkan oleh mayoritas negara anggota G8 karena dianggap mencaplok Semenanjung Krimea dari Ukraina, yang merupakan pelanggaran pertama terhadap kesepakatan perbatasan negara Eropa sejak Perang Dunia II.

Baca juga: Putin undang Trump kunjungi Moskow

Baca juga: Presiden Vladimir Putin dijadwalkan kunjungi Indonesia awal 2020


Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Azizah Fitriyanti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar