Pengerjaan rel dwi ganda di Tambun, perjalanan kereta terganggu

id KAI,Double double track,kai daop 1

Dua rangkaian kereta rel listrik (KRL) Commuterline melintas di kawasan Stasiun Jatinegara, Jakarta, Selasa (9/4/2019). PT Kereta Api Indonesia akan mengoperasikan jalur rel dwiganda (doubledouble track) segmen Cakung-Jatinegara sepanjang 9,5 kilometer. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/pd.

Jakarta (ANTARA) - PT KAI Daop 1 Jakarta melakukan pembatasan kecepatan perjalanan kereta api di wilayah Tambun sejak Kamis (12/9), seiring proses pekerjaan rel dwi ganda  (double double track/DDT) berupa pengoperasian track baru di Stasiun Tambun.

Atas ketidaknyamanan perjalanan itu, KAI Daop 1 menyatakan permohonan maaf kepada pengguna jasa kereta api.

Kepala Humas PT KAI Daop 1 Jakarta Eva Chairunisa dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, mengatakan, pekerjaan DDT lintas Cikarang-Manggarai bagian dari program pengembangan infrastruktur yang dilakukan Satuan Kerja Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.

Selain DDT, pengembangan infrastruktur juga dilakukan melalui pembangunan Stasiun Manggarai untuk mengakomodir integrasi antarmoda Kereta Api seperti Kereta Api Jarak Jauh, KRL dan KA Bandara.

"Pembangunan DDT tersebut juga dilakukan agar jumlah perjalanan kereta dapat terus ditingkatkan," ujar Eva.

Saat ini track di Stasiun Tambun sudah dapat dilalui dengan pembatasan kecepatan 40 km/jam.

"Hari ini (Jumat, 13/9) kelambatan waktu perjalanan kereta pada lintas tersebut diupayakan akan semakin berkurang dan dapat dinormalkan kembali," katanya.

Untuk itu, para pengguna jasa kereta api diharapkan memahami kondisi tersebut mengingat pekerjaan yang dilakukan merupakan bagian dari proses pengembangan infrastruktur untuk peningkatan layanan Kereta Api ke depan.

Baca juga: Jalur dwiganda rampung, perjalanan KRL lebih cepat 20 menit

Baca juga: Jalur dwiganda Jatinegara-Cakung beroperasi 12 April

Baca juga: Pemerintah tambah 15 KRL Cikarang-Bekasi

 

Pewarta : Royke Sinaga
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar