Murah jadi alasan daging kerbau India jadi pilihan impor

id Impor daging kerbau india, impor daging kerbau, berdikari, bumn berdikari

Direktur Utama PT Berdikari (Persero) Eko Taufik Wibowo (kedua kiri) dan Ketua APEDA Shri Paban Kumar Borthakur (ketiga kanan).  (ANTARA/Ade Irma Junida)

Jakarta (ANTARA) - Harga jual yang murah menjadi salah satu alasan utama daging kerbau asal India menjadi pilihan untuk diimpor guna memenuhi kebutuhan daging di Indonesia.

Direktur Utama PT Berdikari (Persero) Eko Taufik Wibowo di Jakarta, Selasa, mengatakan sejatinya daging impor digunakan untuk memenuhi kebutuhan daging nasional yang mencapai 686.271 ton (data prognosis Kementerian Pertanian) pada tahun ini.

Lantaran produksi dalam negeri yang ditaksir mencapai 404.590 ton, maka ada celah kebutuhan impor daging tahun 2019 sebesar 291.980 ton.

"Dari 600 ribu ton kebutuhan, kita cuma bisa penuhi 400 ribuan ton sehingga yang 200 ribu ton itu dipenuhi dari impor selama ini. Daging kerbau India ini ternyata memiliki efek signifikan untuk menurunkan harga karena harganya murah dan kualitasnya menengah," katanya seusai pertemuan dengan otoritas ekspor produk agro dan makanan olahan India atau Agricultural and Processed Food Products Export Development Authority (APEDA) di Jakarta, Selasa.

Dengan harga yang lebih murah dan kualitas yang baik, Eko menyebut keberadaan daging kerbau India sangat dibutuhkan oleh industri kelas menengah ke bawah. Daging kerbau impor itu banyak diolah untuk bakso, sosis hingga untuk pasokan rumah makan.

"Kami pun melepas ke distributor dengan harga sekitar Rp60 ribuan di mana distributor melepas ke pasar dengan harga sekitar Rp74 ribu-Rp75 ribu. Itu sangat signifikan," imbuhnya.

Harga daging kerbau India itu juga berbeda tipis dengan daging sapi asal Brasil.

Namun, harga murah tidak berarti Indonesia akan terus bergantung pada impor. Menurut Eko, kuota impor yang diberikan pemerintah pun bertujuan untuk mengendalikan agar peternak lokal bisa meningkatkan produksi di tengah kebutuhan yang terus meningkat.

"Makanya kami juga melakukan impor sapi bakalan, kita kerja sama dengan peternak rakyat supaya dua atau tiga tahun ke depan, minimal 'gap' (celah) sebesar 200 ribu ton itu tidak sepenuhnya dipenuhi impor daging. Tapi kita bisa tarik dari peternak lokal," katanya.

Di sisi lain, impor daging kerbau asal India juga diklaim sebagai penyeimbang neraca perdagangan dengan negeri Taj Mahal itu.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, total perdagangan Indonesia dan India pada Januari-Juli 2019 mencapai 9,3 miliar dolar AS. Dengan ekspor ke India yang mencapai 6,8 miliar dolar AS sementara impor dari India mencapai 2,6 miliar dolar AS, neraca perdagangan Indonesia terhadap India masih surplus sekitar 4,2 miliar dolar AS.

"Mereka (India) kan beli batubara, kelapa sawit dari kita. Dengan kita membeli produk pangan yang memang kita butuhkan ini (daging kerbau), ini jadi penyeimbang," kata Eko.

Ketua APEDA Shri Paban Kumar Borthakur mengapresiasi kerja sama antara Indonesia dan India dalam perdagangan daging kerbau.

Ia berharap kuota impor daging kerbau dari Indonesia bisa meningkat di masa mendatang.

Baca juga: Bulog berencana datangkan lagi 30.000 ton daging kerbau India

Baca juga: Daging kerbau banyak diminati warga Putussibau


 

Pewarta : Ade irma Junida
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar