Pedagang air tambang bauksit menjamur saat krisis air

id bekas tambang bauksit,krisis air,air tercemar,musim kering tanjungpinang,air bersih,kekeringan kepri

Pedagang air menyedot air dari kubangan bekas pertambangan bauksit di Jalan Sei Unggar, perbatasan Bintan dan Tanjungpinang, Sabtu (21/9/2019). (ANTARA/Nikolas Panama)

Tanjungpinang (ANTARA) - Suara mesin penyedot air terdengar dari Jalan Raya Senggarang, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Sejumlah orang yang mengendarai truk tangki dan mobil pikap tampak sibuk di bibir kubangan air bekas penggalian bauksit.

Air dari kubangan bekas limbah bauksit itu disedot ke dalam truk tangki dan mobil pikap yang bertuliskan "jual air bersih". Di drum juga ada tulisan "jual air sumur bersih".

Mulai pagi hingga malam hari, puluhan truk tangki dan mobil pikap keluar masuk lokasi yang hanya berjarak 30 meter dari jalan raya itu.

Menelusuri penjualan air keliling tidaklah sulit. Sebab pedagang menyedot air setelah mendapat order dari pelanggan.

Begitu pula yang terjadi sejak sepekan terakhir hingga kini. Pagi, siang, sore hingga malam hari, para pedagang ini terang-terangan menyedot air dari kubangan bekas pertambangan bauksit.

Mereka beralasan air itu digunakan untuk cor bangunan, dan ada juga yang mengaku menjual air ini hanya untuk mandi, bukan konsumsi. Benarkah?

Untuk membuktikannya, ANTARA dan sejumlah wartawan lain berhasil membuntuti salah satu truk tangki yang membawa air dari Senggarang menuju salah satu perumahan di Batu 10.

Namun pelanggan ternyata hanya mengetahui air itu bersumber dari air sumur milik pedagang, bukan dari genangan air di kubangan bekas galian bauksit.

"Air ini untuk kebutuhan keluarga, mulai dari air minum, masak nasi, mandi hingga cuci piring. Dua hari sekali kami beli air," ucap Dona, warga Batu 10.

Ketika mengetahuinya Dona merasa terkejut, karena sudah lama berlangganan air keliling itu. Ia pun merasa  marah ketika tahu, lantaran air kotor itu sudah masuk ke dalam tubuhnya dan keluarganya.

Ia mengaku sempat curiga lantaran air tersebut tidak bersih dan ada warna kuning lumpur. Tetapi pedagang air itu beralasan air sumur yang disedot sudah mulai mengering sehingga lumpur juga ikut tersedot.

Air juga sedikit bau, dan terasa seperti berat ketika diminum, meski sudah dimasak.

"Saya mau tanya suami dulu, apakah mau kasuskan ini atau tidak. Tetapi kami mau periksa ke dokter," katanya.

Ratusan pelanggan air di Tanjungpinang diduga mengalami nasib yang sama. Mereka tidak mengetahui jika air yang dijual pedagang itu berasal dari genangan air di atas lumpur bekas tambang bauksit.

"Saya tidak tahu kalau air yang saya beli ini berasal dari air limbah bauksit. Jahat sekali penjualnya," kata Tuti, warga Batu 4 Tanjungpinang.

Baca juga: Kota Tanjungpinang-Kepri alami krisis air, sebut PDAM

Cari Makan

Air bekas galian bauksit di Jalan Sei Unggar ternyata jauh lebih diminati pedagang air. Padahal kondisi air juga sama, kotor.

Air di kubangan bekas tambang bauksit, dekat dengan tromol (alat pencuci bauksit) disedot oleh pedagang dengan menggunakan mesin.

Puluhan truk tampak leluasa keluar masuk dari lokasi itu. Mereka keluar lokasi setelah tangki dan drum penuh.

Di lokasi kubangan air itu, sudah berjejer puluhan pipa. Para sopir truk dan mobil pikap tinggal menyambungkan pipa dari tangki dan drum, kemudian menyedot air tersebut dengan menggunakan mesin.

Sempat terjadi ketegangan ketika wartawan mendekati area dan mengambil foto dan video pengambilan air tersebut. 

Lalu sang sopir  mengaku hanya mencari makan dengan menjual air tersebut. Selain itu warga juga butuh air. 

"Kami hanya cari makan. Jangan foto kami," kata pedagang air dengan masker menutupi sebagian wajahnya.

Kemudian pembicaraan berlangsung dengan tegang.

Meskipun demikian sopir itu akhirnya menyerah. Ia membuang seluruh air yang sudah disedotnya.

Pedagang yang baru masuk, dan melihat peristiwa itu, tidak jadi mengambil air dari kubangan tersebut. Mereka mengaku tidak menjual air untuk minum melainkan hanya untuk mandi.

"Saya tidak tahu. Saya jual hanya ke tetangga Rp40.000 per 1.000 liter," ucapnya.

Baca juga: 20 hektar sawah di Belitung alami kekeringan

Waduk Kering

Sementara itu, Pelaksana Harian Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Kepri, Budi Yadi mengatakan, meski pihaknya saat ini mulai kekurangan pasokan air, namun pelayanan kepada warga tetap dilakukan PDAM Tirta Kepri.

Pihaknya justru mendistribusikan air ke rumah warga secara gratis. Bahkan air diantar ke rumah warga, meski bukan pelanggan PDAM Tirta Kepri, dengan menggunakan mobil pikap.

"Sekarang pun seperti itu. Pelayanan tetap diberikan kepada warga yang membutuhkan," tegasnya.

Ia mengakui, debit air Waduk Gesek, Kabupaten Bintan kini hanya 40 cm kedalamannya. 

"Dalam sehari debit air berkurang 7 cm. Jadi kalau sampai akhir bulan ini tidak terjadi hujan, Waduk Gesek sudah tidak dapat menyalurkan air bersih ke rumah pelanggan," ujarnya.

Budi menyatakan sampai sekarang air dari Waduk Gesek masih didistribusikan ke rumah pelanggan di Tanjungpinang, namun dibantu dengan air dari Sei Pulai yang saat ini juga dalam kondisi kritis karena debitnya hanya 1,3 meter kedalamannya.

Dalam kondisi normal kedalaman air Waduk Gesek mencapai 2,4 meter, sedangkan Sei Pulai 3,4 meter. Air ini disalurkan kepada 17 ribu rumah pelanggan di Tanjungpinang.

Dalam kondisi kritis, volume air yang disalurkan ke rumah warga juga berkurang.  PDAM Tirta Kepri bahkan sempat menghentikan pendistribusian air.

Dua sumber air bersih yang dikelola PDAM Tirta Kepri itu tidak memiliki mata air. Sumber satu-satunya air yakni hujan.

Sementara itu, Kapolres Tanjungpinang AKBP Ucok Lasdin Silalahi langsung memerintahkan anggotanya untuk melakukan penyelidikan terhadap kegiatan pengambilan air di bekas tambang bauksit.

"Saya sudah memerintahkan anggota untuk melakukan penyelidikan, termasuk memeriksa kadar air tersebut untuk mengetahui tingkat berbahayanya," kata Ucok.

Ia mengingatkan pedagang air untuk tidak bersikap curang meskipun saat ini sedang krisis air.

"Sikap curang dapat merugikan kesehatan masyarakat, ini merupakan pelanggaran, dan dapat dipidana," katanya.

Musim kering dan krisis air yang melanda Tanjungpinang, Kepulauan Riau,  memang seharusnya tidak dimanfaatkan untuk mencari keuntungan dengan cara-cara yang tidak baik.

Baca juga: Kemarau tahun ini lebih kering menurut BMKG

 

 

Pewarta : Nikolas Panama
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar