LPS sebut tekanan likuiditas masih membayangi perbankan di 2020

id LPS

Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fauzi Ichsan (kedua dari kanan) di Jakarta, Selasa (24/9/2019). ANTARA/Indra Arief Pribadi.

Jakarta (ANTARA) - Lembaga Penjamin Simpanan memproyeksikan kondisi likuiditas ketat masih dialami perbankan pada 2020 karena ekspansifnya penyaluran kredit yang tidak diimbangi dengan pertumbuhan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang memadai.

Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan di Jakarta, Selasa, memperkirakan rasio pembiayaan terhadap pendanaan (Loan To Deposit Ratio/LDR) industri perbankan di 2020 mencapai 100,6 persen, sementara di akhir 2019 sebesar 96,8 persen.

Tingkat LDR yang diproyeksikan LPS tersebut di atas ketentuan batas atas Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) Bank Indonesia yakni sebesar 94 persen. Sementara batas bawah RIM ditetapkan BI sebesar 84 persen.

Baca juga: BI: Likuiditas perbankan bertambah Rp128 triliun, dipicu RIM longgar

"Itu karena pertumbuhan kreditnya naik secara ekspansif, sementara pertumbuhan DPK normal. Penyebab pertumbuhan kredit akibat meningkatnya permintaan untuk pembiayaan infrastruktur," ujar Fauzi.

Oleh karena itu, Fauzi memperkirakan perbankan akan berlomba-lomba pada sisa tahun ini dan 2020 untuk mencari sumber pendanaan selain simpanan, seperti penerbitan instrumen utang, maupun pinjaman.

Seretnya pertumbuhan simpanan perbankan juga tercermin dari pertumbuhan DPK yang diproyeksikan LPS hanya mencapai 7,4 persen di akhir 2019. Padahal, industri perbankan masih agresif menyalurkan kredit perbankan hingga diproyeksikan LPS mampu mendongkrak pertumbuhan kredit hingga 11,7 persen di akhir tahun ini.

Baca juga: BI: Likuiditas perekonomian pada Juni 2019 melambat

Sementara untuk 2020, DPK perbankan diproyeksikan tumbuh hanya 8,4 persen. Padahal kredit perbankan tumbuh hingga 12,1 persen.

"Maka itu pendanaan dari nondeposit akan semakin penting tahun depan," ujar dia.

Fauzi menjelaskan perbankan masih akan ekspansif menyalurkan kredit di sisa tahun ini dan 2020 terutama untuk infrastruktur. Hal ini juga sesuai dengan arahan dari Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan dan pemerintah agar fungsi intermediasi dari perbankan dapat menangkal dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Pertumbuhan kredit juga akan terpacu oleh pelonggaran suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate. Bank sentral hingga September 2019 ini sudah tiga kali memangkas suku bunga acuannya sebesar 0,75 persen menjadi 5,25 persen yang diperkirakan akan menurunkan suku bunga simpanan dan kredit dalam 6-9 bulan ke depan.

Baca juga: BI pastikan likuiditas memadai untuk mencapai pertumbuhan kredit 12 persen
 

Pewarta : Indra Arief Pribadi
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar