Gempa Cilacap akibat aktivitas lempeng Indo-Australia

id Gempa Cilacap,Gempa bumi,BMKG

Lokasi gempa yang terjadi pada hari Senin (14/10/2019), pukul 18.33 WIB. ANTARAHO-BMKG

Jakarta (ANTARA) - Gempa yang mengguncang Cilacap dan sebagian Jawa Tengah, Senin malam, dikarenakan aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia yang menghunjam di bawah lempeng Eurasia.

Berdasarkan informasi dari BMKG yang diterima di Jakarta, Senin, gempa Bumi yang terjadi pukul 18.34 WIB berlokasi di Samudera Hindia Selatan Jawa merupakan jenis gempa menengah.

Berdasarkan analisis BMKG, gempa Bumi dengan kekuatan magnitudo 5 dan kemudian dimutakhirkan menjadi magnitudo 4,8 memiliki mekanisme pergerakan sesar naik (thrust fault).

Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 8.38 derajad Lintang Selatan dan 109.30 derajad Bujur Timur, atau tepatnya berpusat di laut pada jarak 79 km arah tenggara Cilacap, Jawa Tengah, pada kedalaman 75 km.

Juga baca: BMKG: Gempa Cilacap M 5 tidak berpotensi tsunami

Juga baca: Gempa bumi magnitudo 3,4 landa Ambon

Juga baca: Indonesia hadapi 924 gempa sepanjang September 2019

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, RahmatTriyono, mengatakan guncangan gempa Bumi ini dirasakan di daerah Bantul, Kulonprogo, Kota Yogyakarta, Purworejo, Cilacap dan Kebumen dengan skala II MMI.

Skala II MMI yaitu getaran dirasakan beberapa orang dan benda-benda ringan yang digantung bergoyang.

"Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini tidak berpotensi tsunami," kata dia.

Hingga pukul 19.00 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan belum ada aktivitas gempa Bumi susulan.

Kepada masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Masyarakat juga diimbau agar menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa Bumi. Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa Bumi yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum kembali ke dalam rumah.


Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar