Pontianak gelar lomba menghidangkan makanan Saprahan

id makan saprahan,tradisi saprahan,tradisi melayu pontianak

Arsip Foto. Sejumlah peserta mempersiapkan makanan dan minuman untuk disajikan dalam Makan Saprahan pada Festival Saprahan di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (17/10/2018). Saprahan merupakan tradisi makan bersama masyarakat Melayu Pontianak. ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang

Pontianak, Kalimantan Barat (ANTARA) - Pemerintah Kota Pontianak menggelar lomba menghidangkan makanan Saprahan di Gedung Pontianak Convention Center (PCC) dalam upaya melestarikan budaya lokal.

Dalam Lomba Inovasi Saprahan yang digelar untuk memeriahkan peringatan Hari Jadi Kota Pontianak ke-248, ada 30 kelompok yang terdiri atas kader PKK di Kota Pontianak yang ikut serta.

"Saya berharap lomba inovasi Saprahan ini memberikan nilai edukatif bagi generasi muda, untuk terus kita pertahankan budaya ini," kata Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono di Pontianak, Kamis.

Ia mengatakan bahwa Saprahan sudah masuk dalam daftar warisan budaya tak benda. Rumah makan dan restoran juga sudah banyak yang menghidangkan Saprahan.

"Mudah-mudahan melalui kegiatan ini bisa menumbuhkembangkan ekonomi kreatif," kata Edi.

Edi menjelaskan bahwa makan Saprahan biasanya diselenggarakan dalam acara penerimaan tamu atau pernikahan. Saat makan Saprahan, orang-orang duduk bersila dan makan bersama.

"Inilah budaya Melayu yang patut kita pertahankan dan lestarikan," katanya.
 
Arsip Foto. Sejumlah peserta mempersiapkan makanan dan minuman untuk disajikan dalam Saprahan pada Festival Saprahan di Pontianak, Kalimantan Barar, Rabu (17/10/2018). ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang


Wakil Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengapresiasi penyelenggaraan Lomba Inovasi Saprahan. Ia menyebut tradisi itu memiliki banyak makna, di antaranya bahwa tidak ada perbedaan status sosial dalam Saprahan.

"Semuanya sama, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi," katanya.

Ia juga menekankan pentingnya pelestarian budaya lokal di tengah masuknya budaya dari berbagai negara dan kawasan ke Tanah Air.

"Kalau bukan kita yang melestarikannya, siapa lagi. Saya kuatir, kalau ini tidak dilestarikan, takutnya anak cucu kita nanti tidak tahu bagaimana budaya Saprahan itu. Setidak-tidaknya kita lakukan di rumah kita sendiri," katanya.

Ketua Tim Penggerak PKK Kota Pontianak Yanieta Arbiastutie Kamtono mengatakan bahwa penyelenggaraan lomba Saprahan tahun ini merupakan yang kelima. Berbeda dengan tahun sebelumnya, unsur inovasi dimasukkan dalam penilaian lomba Saprahan tahun ini.

"Ingin memperkaya tradisi yang sudah ada, mencoba menyelaraskan antara tradisi dan program pemerintah salah satunya program gemar makan ikan," kata Yanieta mengenai pemasukan inovasi dalam lomba Saprahan tahun ini.

Makan Saprahan merupakan bagian dari tradisi Melayu. Saprahan berasal dari kata "saprah" yang artinya berhampar.

Dalam tradisi ini, orang-orang makan bersama sambil duduk bersila di lantai dalam kelompok-kelompok yang terdiri atas enam orang. Hidangan makanan serta peralatan makannya disusun teratur di kain saprah. 

Menu makan Saprahan biasanya terdiri atas nasi putih atau nasi kebuli, semur daging, sayur dalca, sayur paceri nanas atau terong, selada, acar telur, dan sambal bawang. Minuman yang disajikan biasanya air serbat berwarna merah.

Baca juga: Festival Saprahan meriahkan HUT Pontianak 
 

Pewarta : Andilala
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar