Universitas Brawijaya kukuhkan dua profesor pertanian sekaligus

id Universitas Brawijaya, pertanian

Prof Dr Yayuk Yuliati (kiri) dan Prof Dr Bambang Tri Rahardjo saat jumpa pers terkait pengukuhannya sebagai profesor di Fakultas Pertanian (FT) Universitas Brawijaya (UB) Malang, Srlasa (19/11). (Foto Antara/Endang Sukarelawsti)

Malang (ANTARA) - Universitas Brawijaya (UB) Malang, Rabu, mengukuhkan dua profesor (Guru Besar) bidang pertanian sekaligus, yakni Prof Dr Yayuk Yuliati dan Prof Dr Bambang Tri Rahardjo.

Prof Yayuk Yuliati dikukuhkan sebagai profesor bidang Ilmu Sosiologi Pertanian dan Prof Bambang Tri Rahardjo sebagai profesor bidang Ilmu Hama Tanaman.

Prof Yayuk Yuliati merupakan profesor ke-40 di Fakultas Pertanian (FP) dan ke-253 di tingkat universitas. Sedangkan Prof Bambang Tri Rahardjo merupakan profesor ke-41 di FT dan ke-254 di UB.

Dalam pidato ilmiah pengukuhannya yang mengupas tentang "Peningkatan Kapasitas Perempuan Tani dalam Menguatkan Feminisasi Pertanian " itu, Prof Yayuk mengemukakan fenomena feminisasi pertanian akhir-akhir ini terjadi hampir di seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia.

"Fenomena feminisasi pertanian ini ditandai dengan meningkatkan jumlah tenaga kerja perempuan di sektor pertanian," katanya.

Jumlah petani perempuan pada tahun 2016 mencapai 52,71 persen meningkat menjadi 55,04 persen pada Februari 2017. Sebaliknya, jumlah petani laki-laki justru menurun, dari 83,46 persen menjadi 83,05 persen.

Baca juga: Mahasiswa Universitas Brawijaya buat alat deteksi dini skizofrenia

Kondisi ini menunjukkan keterlibatan perempuan dalam kegiatan pertanian semakin meningkat dibandingkan laki-laki.

Lebih lanjut, Yayuk mengemukakan feminisasi pertanian mengacu pada peningkatan partisipasi perempuan dalam pertanian, baik sebagai produsen independen, sebagai pekerja keluarga yang tidak dibayar atau sebagai pekerja upahan pertanian.

Di hampir seluruh dunia telah terjadi feminisasi pertanian, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, berkembangnya sektor industri menyebabkan banyaknya lahan pertanian yang dialihfungsikan menjadi pemukiman penduduk, bangunan publik, perkantoran, dan taman hiburan yang menyebabkan keluarga petani harus mencari tambahan pendapatan.

Kondisi tersebut, lanjutnya menjadikan petani laki-laki meninggalkan desanya untuk mencari penghidupan yang lebih baik di kota atau di luar negeri, sementara perempuan tinggal di desa mengurusi rumah tangga dan pertaniannya.

Menurut Yayuk, fenomena feminisasi pertanian ini sebenarnya tidak masalah jika perempuan yang melanjutkan kegiatan pertanian sudah siap, artinya perempuan sudah mempunyai pengetahuan dan keterampilan formal yang cukup seperti laki-laki, serta ikut memutuskan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses produksi pertanian.

Baca juga: Mahasiswa Universitas Brawijaya ciptakan tempat sampah cerdas

Oleh karena itu, tambahnya guna meningkatkan kapasitas perempuan tani, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan, yakni pemberian akses sumber daya kepada perempuan, pengurangan beban kerja perempuan.

Selain itu, koordinasi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat dalam merumuskan pembangunan yang berperspektif gender, serta perlunya diskusi dan sosialisasi gender bagi seluruh elemen masyarakat agar tercipta kesetaraan gender, khususnya dalam pembangunan pertanian.

Sementara itu, Prof Bambang yang dalam pidato ilmiah pengukuhannya mengambil tema "Era Baru Pengelolaan Hama Tanaman dengan Manipulasi Habitat" tersebut, mengatakan pengertian hama sering rancu dengan pengertian penyakit tanaman.

Salah pengertian terhadap definisi hama, jelas Bambang menyebabkan masyarakat khawatir bahwa setiap hewan pasti akan menjadi masalah (entomophobia), sehingga tindakan selanjutnya pasti dilakukan penyemprotan dengan pestisida.

"Sampai saat ini pada umumnya petani masih menggunakan pestisida secara intensif dalam sistem budi daya tanaman, sehingga berdampak buruk karena matinya berbagai jenis hewan yang bermanfaat," tambahnya.

Baca juga: Bank Indonesia Malang gandeng Universitas Brawijaya gelar Artcofest

Pewarta : Endang Sukarelawati
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar