DPR dorong keseriusan peningkatan literasi

id literasi,Melek aksara, pisa, syamsul huda

Ilustrasi. Pengunjung membaca informasi yang dipamerkan pada Festival Arsip dan Literasi Bogor di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Selasa, (10/12/2019). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/pd

Jakarta (ANTARA) - Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda mendorong agar ada keseriusan pemerintah dalam meningkatkan literasi masyarakat Indonesia yang saat ini masih rendah dalam melek aksara.

"Mengacu dari skor Programme for International Student Assessment (PISA) 2018, kami mendorong percepatan perubahan paradigma pendidikan kita, termasuk isu soal pendidikan itu adalah soal literasi," kata Huda dalam diskusi bertema "PISA, Literasi dan Urgensi Road Map Bonus Demografi" di Kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, Rabu.

Tingkat literasi siswa Indonesia sangat rendah berdasarkan rangking terbaru PISA yang diumumkan The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) belum lama ini. Indonesia berada di posisi 72 dari 78 negara. Sementara posisi tertinggi dipegang China.

Dalam siaran persnya, Huda mengatakan hasil kajian tersebut harus dijadikan sebagai acuan dalam melakukan perubahan yang lebih baik bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Ketua DPP PKB itu mengatakan dari laporan PISA muncul pertanyaan penyebab rendahnya literasi siswa Indonesia apakah karena minimnya ketersediaan fasilitas literasi atau memang karena minimnya minat baca masyarakat Indonesia.

"Hasil survei kecil-kecilan saya membuktikan bahwa anak-anak kita sangat cenderung ingin membaca. Minat untuk membaca tinggi sekali. Problemnya enggak ada buku. Daerah-daerah yang terpencil, apalagi di tiga T (terdepan, terluar dan terbelakang) itu, anak-anak setiap hari yang dia lihat, tanah lagi, yang dia lihat tanah lagi. Enggak pernah dia lihat buku. Tak pernah menjumpai buku," katanya.

Karena itu, menurut Huda, diperlukan afirmasi kebijakan yang serius dari pemerintah soal gerakan literasi. Sebab, hal ini menjadi pertahanan terbaik bagi bangsa.

"Bagaimana anak-anak cerdas, anak-anak yang berpikir terbuka. Itu adalah modal bagi masa depan bangsa ini,” urainya.

Laporan PISA, kata Huda, menunjukkan Indonesia dalam kondisi kritis dengan banyak anak yang tidak memiliki kesempatan untuk sekadar memegang buku apalagi membacanya. Dampaknya, mereka minim wacana dan pengetahuan.

"Kami di Komisi X akan mengawal semua yang sudah digagas (Mendikbud) 'on paper' agar implementatif di lapangan," katanya.

Baca juga: Pemerintah diminta libatkan koperasi dalam literasi keuangan inklusif
Baca juga: Jokowi: penting naikkan literasi keuangan dorong ekonomi mikro
Baca juga: Perpusnas luncurkan buku perjalanan meningkatkan literasi masyarakat

Pewarta : Anom Prihantoro
Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar