Ahli jelaskan alasan obat malaria bisa digunakan untuk COVID-19

id obat covid-19,obat malaria,penularan corona,penanganan corona,virus corona,corona,covid-19,2019-ncov,novel coronavirus 2019

Arsip Foto. Pekerja medis yang mengenakan pakaian pelindung memeriksa seorang pasien di ruang isolasi Rumah Sakit Palang Merah Wuhan di Wuhan, Hubei, China, pusat penyebaran wabah COVID-19 akibat virus corona baru, pada 16 Februari 2020. China Daily via REUTERS

Jakarta (ANTARA) - Ahli mikrobiologi dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sugiyono Saputra menjelaskan obat antimalaria chloroquine phosphate memiliki efek antivirus karenanya bisa digunakan dalam pengobatan pasien COVID-19, penyakit akibat infeksi virus corona baru.

"Jadi zat klorokuin (chloroquine) punya antimalaria sekaligus punya aktivitas antivirus. Obat itu juga dipelajari untuk pengobatan HIV. Meski belum diketahui apakah bisa untuk virus apa saja, tapi yang jelas zat itu pernah diteliti juga punya aktivitas anti-HIV," katanya ketika dihubungi dari Jakarta, Sabtu.

Ahli kesehatan China sebelumnya mengumumkan telah menemukan cara baru dalam menangani pasien COVID-19 dan menyatakan bahwa penggunaan obat antimalaria lebih efektif untuk merawat pasien COVID-19.

Menurut Pusat Pengembangan Bioteknologi Nasional China yang berada di bawah Kementerian Sains dan Teknologi, chloroquine phosphate memiliki efek penyembuhan tertentu pada pasien yang terserang penyakit pernapasan akibat infeksi virus corona baru.

Pemerintah China diwartakan sedang menguji penggunaan obat tersebut untuk pasien COVID-19 di lebih dari 10 rumah sakit di Beijing serta rumah sakit di Provinsi Guangdong dan Provinsi Hunan.

Chloroquine phosphate biasa digunakan untuk mengobati malaria, penyakit yang disebabkan oleh protozoa dan menular ke manusia lewat gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi.

"Secara general (umum) bisa dianalogikan memang bisa digunakan. Karena dari penelitian sebelumnya zat itu bisa digunakan untuk anti-HIV di mana HIV memang disebabkan virus RNA, sama seperti corona," kata Sugiyono.

Virus RNA adalah virus yang materi genetiknya RNA (asam ribonukleat) sedangkan virus DNA materi genetiknya asam deoksiribonukleat.

Penyakit ebola, SARS, rabies, hepatitis C, dan HIV/AIDS disebabkan oleh virus RNA. Virus corona juga termasuk virus RNA.

Virus corona baru sejak akhir 2019 menyebabkan wabah COVID-19 di wilayah China. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia, hingga 21 Februari COVID-19 telah menginfeksi 76.769 orang di 26 negara dengan kasus terbanyak di daratan China dengan 75.569 kasus. Virus itu telah menyebabkan 2.239 orang di China dan delapan orang di luar China kehilangan nyawa.

Baca juga:
20.659 pasien corona dinyatakan sembuh

WHO: Dunia harus bertindak cepat membendung virus corona

Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar