Warga Kampung Herbal Surabaya budi daya tanaman empon-empon

id kampung herbal,tanaman empon-empon,virus corona,penanganan corona,corona,covid-19,2019-ncov,novel coronavirus 2019

Warga Kampung Herbal Surabaya budi daya tanaman empon-empon

Sejumlah warga di Kampung Herbal, RT 09 RW 05, Kelurahan Nginden Jangkungan, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya, Jatim, saat mengeringkan hasil budidaya tanaman empon-empon. ANTARA/Humas Pemkot Surabaya

Surabaya (ANTARA) - Warga Kampung Herbal, RT 09 RW 05, Kelurahan Nginden Jangkungan, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya, Jatim, mempunyai cara menangkal berbagai virus termasuk corona dengan cara membudidayakan tanaman empon-empon seperti jahe, kunyit, temulawak, hingga sambiloto.

Lurah Nginden Jangkungan, Erna Sri Wulandari, di Surabaya, Minggu, mengatakan budi daya tanaman toga yang dilakukan warganya sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, tapi mulai aktif pada 2015.

Warga di sana, memanfaatkan tanah aset pemkot yang dulu merupakan rawa dan kemudian disulap menjadi Taman Herbal.

"Karena memang dulu awalnya rawa-rawa dan dihuni banyak hewan, sehingga banyak yang kena DB (demam berdarah). Nah, kemudian sama warga dimanfaatkan untuk budi daya berbagai jenis tanaman herbal," ujarnya.

Baca juga: Masyarakat buru empon-empon cegah virus corona
Baca juga: Permintaan jamu tradisional di Madiun meningkat


Diketahui tanaman empon-empon bermanfaat untuk menamengi imunitas tubuh dari serangan virus. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Universitas Airlangga (Unair) yang menyatakan bahwa empon-empon berkhasiat mencegah virus corona.

Perempuan yang telah menjabat Lurah sejak pertengahan Juli 2014 ini mengatakan setidaknya ada 172 jenis tanaman herbal yang dibudidayakan oleh warganya, di antaranya jahe, kunyit, dan juga temulawak yang bermanfaat untuk menambah imunitas tubuh.

"Jadi Taman Herbal (Kampung Herbal) ini bukan sulapan atau baru-baru saja dibuat, tetapi sudah lama sebelum ada virus corona," katanya.

Sistemnya, Erna menyebut, warga melakukan pembibitan secara swadaya di lahan yang dahulu merupakan bekas rawa. Warga pun berbagi tugas satu dengan yang lain dalam proses budi daya. Selain dibuat produk minuman, hasil bibit tanaman herbal itu ternyata juga dijual warga untuk menambah pendapatan.

"Banyak warga dari luar juga yang membeli bibit tanaman herbal di sini. Selain itu, hasil tanaman herbal ini juga diolah warga menjadi produk minuman, seperti sinom, temulawak dan dititip-titipkan ke warung-warung untuk dijual," ujarnya.

Baca juga: KPPU akan lihat mekanisme pasar terkait tingginya harga "empon-empon"
Baca juga: Satgas pangan mengecek ketersediaan "empon-empon" di pasar Surabaya


Lambat laun, ternyata banyak warga luar Surabaya yang tertarik untuk berkunjung ke Taman Herbal tersebut. Bahkan, seringkali turis asing juga berkunjung untuk belajar pembibitan tanaman herbal.

Saat berkunjung ke lokasi ini, lanjut dia, pengunjung akan didampingi oleh guide atau pemandu yang akan menjelaskan berbagai jenis tanaman herbal di sana. Kini, Taman Herbal yang berada di wilayah Kelurahan Nginden Jangkungan ini menjadi salah satu daya tarik wisata Kota Surabaya.

Namun begitu, perempuan berkerudung ini mengungkapkan, ada hal menarik yang bisa dijumpai ketika berkunjung di Taman Herbal Nginden Jangkungan ini. Warga di sana, rupanya telah memanfaatkan sistem barcode untuk memudahkan pengunjung belajar berbagai jenis dan manfaat tanaman herbal di lokasi tersebut. Dengan menerapkan sistem barcode, pengunjung bisa mengetahui berbagai jenis nama dan manfaat tanaman toga yang ditanam.

"Sementara ini ada 60 jenis tanaman yang bisa dicek menggunakan barcode. Dari barcode itu bisa diketahui mulai jenis tanaman, nama latin, manfaat tanaman hingga cara pengolahannya," katanya.

Baca juga: IDI: Empon-empon untuk COVID-19 hukumnya mubah
Baca juga: UI kembangkan budidaya tanaman rempah-rempah untuk tata lahan desa

Pewarta : Abdul Hakim
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar