Pemerintah ingin bangun industri yang tak bergantung pada satu negara

id Corona, impor bahan baku obat, impor bahan baku farmasi, covid 19, bahan baku farmasi, gp farmasi, ketergantungan industri ke china

Staf Ahli Menko Perekonomian Edi Pambudi (ketiga kiri) dan Ketua Komite Perdagangan dan Industri Bahan Baku Farmasi GP Farmasi Vincent Harijanto (kedua kiri). (ANTARA/Ade Irma Junida)

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah berencana membangun industri yang tidak bergantung kepada satu atau dua negara melalui transformasi struktural menyusul dampak virus corona (COVID-19) terhadap industri dalam negeri.

"Ke depan kita harus membangun industri yang tidak bergantung dan terkonsentrasi pada satu atau dua negara," kata Staf Ahli Menko Perekonomian Edi Pambudi dalam diskusi bertajuk "Corona Datang Bisnis Meradang" di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Anggota DPR sayangkan ketergantungan timah terhadap harga global

Edi menuturkan transformasi struktural itu di antaranya dengan penyederhanaan aturan mulai dari perizinan, kemudahan berusaha, insentif dan lainnya.

"Mari kita manfaatkan ini untuk membangun industri yang lebih independen," katanya.

Ia menilai selama ini Indonesia sangat bergantung pada barang konsumsi dan bahan baku dari luar negeri. Dengan China, misalnya, Indonesia masih defisit perdagangan karena masih lebih banyak mengimpor.

Padahal, Indonesia pernah mencatatkan surplus perdagangan dengan negeri tirai bambu itu pada 2013. Namun lambat laun kondisinya berbalik karena Indonesia yang lebih banyak membeli.

Baca juga: Menperin: Ini peluang industri elektronik isi pasar dalam negeri

"Seolah-olah ada pakem apapun bisa dibuat di sana, kalau di sini apapun bisa kita beli, jadi kita kayaknya cocok. Apa yang dia bisa buat akhirnya bisa kita beli," ujarnya.

Oleh karena itu, Edi mengungkapkan pakem tersebut harus diubah agar Indonesia tidak lagi bergantung pada satu negara.

Ia juga menuturkan perlunya melakukan diversifikasi sumber bahan baku ke negara lain sehingga tak mulai digoncang disrupsi, misalnya seperti yang saat ini terjadi dengan China dan virus corona.

Ketua Komite Perdagangan dan Industri Bahan Baku Farmasi GP Farmasi Vincent Harijanto, dalam acara yang sama, menilai mewabahnya corona dari China dapat menjadi momentum yang tepat bagi Indonesia untuk tidak terus berkiblat ke China.

Baca juga: Menkes: COVID-19 buka peluang bagi industri farmasi dalam negeri

Ia menjelaskan selama ini 95 persen bahan baku farmasi masih diimpor, utamanya dari China, India dan Eropa. Dari jumlah tersebut, pasokan bahan baku obat dari China mencapai 60-65 persennya.

"Seperti yang dikatakan Pak Wapres, kita mengupayakan 'source' yang tidak hanya China. Memang kita ini sekian banyak dari China dan India, maka keterbatasan itu akan selalu terjadi apapun sebabnya," katanya.

Vincent mengatakan masih memungkinkan bagi indsutri farmasi untuk mencari sumber bahan baku dari negara lain seperti beberapa negara tetangga hingga Eropa.

"Ini bukan (bisnis) meradang, justru ini jadi suatu peluang yang bisa kita kerjakan bersama. Buktinya tadinya koordinasi kurang, sekarang koordinasi bisa terjadi," katanya menjelaskan karena virus corona, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Ditjen Bea dan Cukai telah berkomitmen untuk mempermudah masuknya bahan baku farmasi asal China.

Baca juga: Lindungi industri dalam negeri, Kemendag tetapkan BMDTP evaporator
 

Pewarta : Ade irma Junida
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar