Pengamat nilai penurunan impor berikan sinyal sektor industri tertekan

id Indef,Impor,Impor bahan baku,Neraca perdagangan,Stimulus fiskal jilid kedua,Virus corona,Sektor industri,Gejolak ekonomi,Stimulus fiskal

Dokumentasi - Sejumlah truk membawa muatan peti kemas di Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (17/2/2020). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj.

Jakarta (ANTARA) - Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus menilai impor pada Februari tahun ini sebesar 11,60 miliar dolar AS atau turun 18,69 persen dibandingkan bulan sebelumnya (mtm) dan berkurang 5 persen dari periode sama tahun lalu (yoy), merupakan sinyal bahwa sektor industri sedang tertekan.

Heri mengatakan nilai impor kumulatif Januari–Februari 2020 sebesar 25,8 miliar dolar AS atau turun 4,95 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya itu menekan sektor industri karena yang banyak turun terjadi pada barang modal dan bahan baku.

“Secara kumulatif impor Januari-Februari 2020 dibanding periode sama 2019 penurunan paling besar didorong barang modal dan bahan baku sedangkan barang konsumsi naik,” katanya saat dihubungi Antara, di Jakarta, Senin.

Heri menuturkan adanya penurunan impor bahan baku merupakan sinyal bahwa terdapat gejala-gejala pengurangan permintaan bahan baku oleh sektor industri.

“Kalau misalnya minus berarti industri mengurangi pembelian bahan baku entah dia sudah melakukan stok sebelumnya atau dia ingin melakukan kontraksi atau tidak ingin melakukan ekspansi,” ujarnya.

Heri menyatakan pengurangan pembelian bahan baku oleh para pelaku industri merupakan suatu gejala tidak baik karena dalam kondisi global penuh tekanan seperti sekarang seharusnya impor tersebut meningkat.

“Ini kan gejala-gejala yang sebenarnya tidak baik karena impor bahan baku seharusnya meningkat kalau memang kita ingin industrinya tetap terus berproduksi, ekspansi, dan meningkatkan produksinya,” katanya.

Ia menyebutkan pemerintah harus terus mendukung kebutuhan sektor industri dalam melakukan produksi sehingga ketersediaan bahan baku merupakan hal paling penting agar proses produksi tetap berjalan.

“Ciptakan lah suasana agar industri itu lancar produksinya jadi pemerintah harus ambil peranan di situ,” katanya.

Menurutnya, pemerintah harus bersinergi dengan dunia usaha untuk mencarikan negara alternatif yang dapat menyediakan bahan baku impor untuk menggantikan China sebab negara itu kini sedang dalam tekanan wabah COVID-19.

“Bagaimana mendukung kelancaran bahan baku baik dari dalam maupun luar negeri jadi pemerintah bisa memberikan fasilitas karena impor bahan baku dari China sedang tersendat,” katanya.

Heri mencontohkan, bahan baku untuk telepon seluler atau elektronik Indonesia sebesar 62 persen impor dari China dan selebihnya dari Taiwan, Hong Kong, dan Vietnam.

Ia menyatakan pemerintah bisa menjadikan Taiwan sebagai pengganti China dalam menyediakan bahan baku telepon selular sehingga keberlangsungan produksi industri telepon selular Indonesia tetap dapat berjalan.

Heri menyatakan pemerintah juga bisa memberikan fasilitas untuk sektor industri jika ternyata biaya dari Taiwan lebih mahal dibandingkan China misalnya berupa subsidi ongkos kirim atau biaya terkait impor bahan baku.

“Jadi terasa untuk industri supaya industri elektronik kita tetap bisa mendapat bahan baku yang bagus, kualitas sama dan harganya sama murahnya dengan China,” katanya.

Baca juga: China jadi pemasok barang impor terbesar ke Indonesia sepanjang 2019
Baca juga: Jaga stabilitas ekonomi, pemerintah diminta fokus dorong konsumsi
Baca juga: Kepercayaan penanganan Corona tahan perlambatan ekonomi, kata ekonom

Pewarta : Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar