Turki balas blokir situs berita Arab Saudi dan UAE terkait Kashoggi

id arab saudi,turki,blokir situs internet,jamal kashoggi,pembunuhan kashoggi

Para anggota Amnesty International Turki berunjuk rasa di depan Konsulat Arab Saudi di Turki pada 10 Januari 2019 untuk menandai hari ke-100 pembunuhan wartawan Saudi Jamal Khashoggi. (REUTERS/Murad Sezer) (.) (./)

Istanbul (ANTARA) - Otoritas Turki memblokir sejumlah situs berita Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UAE) pada Minggu (19/4), beberapa hari setelah situs lembaga penyiaran dan kantor berita Turki terlebih dahulu diblokir di Arab Saudi.

Langkah saling membalas itu disebut-sebut terkait dengan perselisihan terkait pembunuhan jurnalis Jamal Kashoggi pada 2018 lalu di konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, yang kemudian membuat relasi antara kedua negara menjadi buruk.

Pengguna internet di Turki sempat mencoba mengakses situs kantor berita Arab Saudi SPA, kantor berita UAE WAM, dan sejumlah situs lainnya hingga mereka mendapat pesan yang bertuliskan bahwa situs-situs tersebut diblokir oleh pihak berwenang Turki.

Situs berita berbahasa Turki dari media independen yang berbasis di London dan dijalankan oleh perusahaan asal Arab Saudi, independentturkish.com, menjadi salah satu laman internet yang diblokir.

"Kami yakin bahwa ketegangan antara Arab Saudi dan Turki terlukiskan dengan apa yang kami alami," kata editor Nevzat Cicek, yang juga menyebut bahwa pemblokiran itu terlihat seperti upaya balasan terhadap Arab Saudi.

Sayangnya, Kementerian Peradilan Turki tidak bersedia berkomentar terkait hal ini, sementara kantor media pemerintahan Arab Saudi juga belum memberikan respon.

Sepekan sebelum peristiwa ini, Arab Saudi memblokir akses terhadap beberapa situs media Turki, termasuk milik lembaga penyiaran negara TRT dan kantor berita Anadolu. Sementara masyarakat di UAE, sekutu dekat negara itu, mengatakan mereka bisa mengakses situs-situs Turki tersebut pada Minggu.

Bagaimanapun, pembunuhan Kashoggi yang merupakan jurnalis Arab Saudi pengkritik pemimpin de facto negaranya, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, menjadi titik peningkatan ketegangan relasi Arab Saudi dan Turki.

Bulan lalu, jaksa Turki mendakwa salah seorang ajudan dekat pangeran serta mantan wakil kepala intelijen Arab Saudi turut bertanggungjawab terhadap pembunuhan Kashoggi, bersama 18 orang lainnya yang melakukan kejahatan itu.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa pembunuhan itu diperintahkan oleh "pejabat tertinggi" pemerintahan Arab Saudi. Pangeran Mohammed sendiri membantah dirinya terlibat, namun menyebut dia memikul tanggung jawab terhadap kejadian itu sebagai seorang pemimpin negara.

Sumber: Reuters
Baca juga: Erdogan katakan tak bermaksud merusak Kerajaan Saudi soal Khashoggi
Baca juga: Turki: penolakan Riyadh untuk mengekstradisi tersangka pembunuh Khashoggi "mengecewakan"
Baca juga: Dukungan Trump kepada Pangeran Saudi sulitkan Turki

Pewarta : Suwanti
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar