Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 200 ton buah salak organik produksi kelompok tani Sleman, Yogyakarta, diekspor ke China dalam satu tahun terakhir.

"Ekspor berlangsung rutin tiap minggu rata-rata empat ton, satu tahun terakhir sampai 50 kali ekspor," kata Al Maryono, Manajer Kelompok Tani Tawangrejo Asri Sleman di Arena Pekan Raya Jakarta, Jumat.

Pembeli China sangat menyukai salak pondoh Sleman karena selain bebas bahan kimia dari pupuk maupun pestisida, juga rasanya manis dan tidak kesat.

China sebenarnya meminta dikirim 20 ton per minggu, tetapi yang bisa dipenuhi Sleman hanya empat ton karena produksi petani belum mencukupi, kata Maryono.

Joko Gambiro, teknisi pengolahan pupuk organik petani Sleman, mengatakan, untuk menghasilkan salak organik, sebelum ditanami lahan pertanian mesti dinetralkan selama tiga tahun dengan tidak digunakan untuk bercocok tanam.

"Setelah dirasa tanah sudah terbebas dari kandungan kimia, baru dilakukan penanaman buah salak, hingga kini sudah mampu dikembangkan pada areal seluas 12 hektar," kata Joko.

Joko mengatakan, guna memenuhi tingginya permintaan pasar China, maka petani Sleman meminta pemerintah membantu perluasan areal pertanian.

"Target kita, Sleman menjadi penghasil buah salak organik nasional, untuk mewujudkankannya maka minta pemerintah ikut membantu permodalan petani," kata Joko.

Buah salak produksi petani Sleman terdiri dari empat jenis kualitas, Prima 1, Prima 2, Prima 2 dan yang saat ini sedang dalam pengembangan Salak Pondoh Organik.

"Salak pondoh organik selain sudah 100 persen gunakan pupuk dan pestisida organik, juga sudah memenuhi standar dari sisi lingkungan atau dikenal ramah lingkungan," kata Joko.

Kabupaten Sleman oleh Pemerintah DIY ditetapkan menjadi daerah sentra pengembangan salak organik. (*)

Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2009