Kadin : Perlu dorongan UMKM untuk ubah segmentasi pasar saat COVID-19

id Kadin Jatim, Ubah Segmentasi UMKM di tengah COVID-19, UMKM, Kadin Jatim

Wakil Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur H.M. Supriyadi (kanan) saat bersama Ketua Kadin Jatim Adik Dwi Putranto. (FOTO ANTARA/HO-Supriyadi-Kadin Jatim)

Surabaya (ANTARA) - Wakil Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, bidang telekomunikasi Supriyadi menegaskan, perlu adanya dorongan bagi UMKM di saat COVID-19 agar mampu mengubah segmentasi pasar dari konvensional ke layanan digital, sebab konsumen telah dipaksa mengalihkan transaksinya dari hal serupa di saat pandemi ini.

"Merebaknya pandemi Corona telah mengubah tatanan dalam kehidupan manusia. Akibat COVID-19 masyarakat dipaksa untuk mengalihkan kegiatannya dari konvensional menjadi virtual," kata Supriyadi yang juga Direktur Utama PT Tata Kreasi Indonesia, Senin.

Supriyadi usai kegiatan virtual "NgabuburIT Kadin Jatim" ini mengatakan, kondisi yang ada saat ini memang banyak berdampak pada perubahan segmentasi pasar, sebab konsumen sudah mulai membiasakan diri dengan apapun yang berbau digital atau teknologi.

Baca juga: Kadin dan KKP berikan bantuan untuk nelayan Muara Baru

"Karena pasar sudah berubah, maka melemahnya aktivitas ekonomi selama pandemi COVID-19 ini hanya bisa diatasi dengan teknologi, tanpa teknologi UMKM dan pengusaha tidak akan bisa berbuat apa-apa," katanya.

Ia menegaskan, hanya perusahaan yang sudah menerapkan sistem digitalisasi mampu bertahan, sedangkan perusahaan atau usaha yang tidak menerapkan sistem digital siap-siap gulung tikar.

"UMKM yang sudah menggunakan teknologi digital saat ini hanya 10 persen, padahal UMKM adalah sektor yang menjadi penggerak utama ekonomi nasional," katanya.

Oleh karena itu, Kadin bersama sejumlah pemegang kebijakan mendorong agar membimbing dan mengajari UMKM agar bisa berubah dan memulai menerapkan teknologi dalam bisnisnya.

Baca juga: Kadin minta strategi relaksasi PSBB direncanakan dengan tepat

"Minimal bisa bertahan hidup hingga Juni karena stagnasi ini saya perkirakan hanya akan bertahan sampai Juni. Masyarakat tidak akan betah untuk tetap di rumah lebih dari Juni, hal itu didasari pada lelahnya masyarakat atas ketidakjelasan kapan pembatasan aktifitas ini berakhir. Apalagi WHO juga telah mengumumkan bahwa COVID-19 tidak akan hilang dari dunia sampai vaksin ditemukan," katanya.

Supriyadi menegaskan, pilihannya hanya dua yakni kesehatan atau perut. Kalau kesehatan yang akan off seterusnya tetapi kalau yang dilihat sisi perut, pasti sebentar lagi ada kelonggaran.

"Akan ada banyak orang yang nekat keluar beraktifitas untuk menyelamatkan perutnya. PSBB 200 kali pun tidak akan bisa menahan dan saya pastikan setelah lebaran orang sudah akan mulai bisnisnya," katanya.

Pewarta : A Malik Ibrahim
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar