Menyambut tren pengobatan jarak jauh

id Telemedicine,Wuhan,Virus corona ,COVID-19,IDI,PHBS,PSBB,Atensi

Peralatan Telemedicine mampu mendeteksi keluhan penyakit pasien seketika dari jarak jauh (Antara Foto/ Arsip) (Antara Foto/ Arsip/)

Jakarta (ANTARA) - Grafik penularan virus corona di Indonesia yang diumumkan pemerintah pada Sabtu sore (23/5) kembali melejit dengan angka pertambahan hampir seribu kasus baru.

Angka pertambahannya mencapai 949 sehingga untuk pertama kali secara kumulatif mencapai 21.745 orang telah terpapar virus corona. Dua hari lalu angka pertambahannya juga mendekati seribu, yaitu 973 kasus baru.

Pada Rabu (20/5) pertambahan penularan mencapai 693, Kamis (21/5) naik 973, Jumat (22/5) turun dengan 643 kasus dan Sabtu (23/5) naik lagi sebanyak 949 kasus.

Angka pertambahan yang mendekati seribu itu dalam dua hari pada pekan ini mencengangkan dan mengejutkan banyak orang yang telah telanjur berharap terjadinya penurunan.

Harapannya, setelah terjadi pertambahan 973, grafik akan terus turun, tetapi ternyata justru naik lagi.

Kenaikan signifikan itu terjadi di tengah adanya mobilitas warga untuk mudik sejak dua minggu terakhir. Selain itu adanya gelombang warga ke pasar atau pertokoan untuk belanja kebutuhan Lebaran maupun pakaian.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa situasi yang menimbulkan penularan virus corona tipe baru (COVID-19) masih terus terjadi. Dari sisi kronologi banyak kasus, COVID-19 berpotensi menyebar dari kerumunan orang.

Baca juga: Presiden apresiasi dukungan "rumah sakit tanpa dinding"

Karena itu, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto mengimbau masyarakat menerapkan budaya normal yang baru, seperti cuci tangan pakai sabun sesering mungkin, tidak keluar rumah kalau tidak perlu, hindari kerumunan atau berdesakan.

Instrumen resminya telah dilaksanakan oleh beberapa pemerintah daerah melalui Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Selain itu, warga harus cukup gizi dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Tujuan utamanya adalah untuk melindungi tubuh agar tidak sakit dan tertular virus corona, sekaligus sebagai komitmen untuk melindungi keluarga sebagai basis komunitas yang harus kuat imunitasnya.

Jaga Imunitas
Dalam situasi merebaknya wabah saat ini, menjaga imunitas (kekebalan) tubuh agar tidak sakit adalah prioritas. Bukan hanya sakit akibat terpapar virus corona, tetapi juga virus atau penyakit apapun.

Saat ini kalau seseorang sudah sakit maka mencari dokter atau rumah sakit pun perlu upaya yang tidak segampang waktu belum ada wabah ini. Tak sedikit rumah sakit penuh pasien.

Terus bertambahnya pasien positif terjangkit virus corona menyebabkan dokter dan paramedis serta rumah sakit memprioritaskan penanganan pasien wabah ini. Hal itu sesuai imbauan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada 30 Maret 2020.

IDI menyerukan kepada seluruh dokter di Indonesia mempersiapkan diri bergabung melakukan penanganan pasien COVID-19 dalam Gerakan Dokter Semesta Melawan COVID-19.

Seruan itu tertulis dalam surat perintah organisasi yang ditandatangani Ketua Umum PB IDI Daeng M Faqih. Isinya meminta seluruh dokter di Indonesia melakukan gerakan bersama secara serempak dan sistematik.

Baca juga: Masyarakat diminta tidak datang ke RS, gunakan layanan telemedicine

IDI pun memberikan kewenangan dan kompetensi seluruh dokter Indonesia, baik dokter umum maupun seluruh dokter spesialis dalam menangani COVID-19.

Seluruh dokter di Indonesia, baik dokter umum dan seluruh dokter spesialis, diwajibkan mengikuti pelatihan penanganan COVID-19 yang terdiri atas keahlian penanganan perawatan pasien atau orang yang diduga terinfeksi COVID-19. Selain itu, pelatihan keahlian pemeriksaan pasien dan atau orang yang diduga terinfeksi COVID-19.

Mobilisasi
Kementerian Kesehatan pada 16 April 2020 juga menyampaikan imbauan agar rumah sakit dan Dinas Kesehatan mengerahkan seluruh tenaga medis untuk menangani wabah ini. Imbauan itu tampaknya sebagai antisipasi peningkatan jumlah pasien terjangkit virus yang bermula dari Wuhan (China) itu.

Imbauan disampaikan melalui surat Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes Bambang Wibowo Nomor YR.03.03/III/III8/202 kepada seluruh Kepala Dinas Kesehatan provinsi, kabupaten/kota dan direktur utama, direktur serta kepala rumah sakit seluruh Indonesia.

Intinya seluruh rumah sakit untuk menutup seluruh praktik rutin kecuali penanganan darurat  sebagai upaya pencegahan penularan COVID-19.

Imbauan ini sehubungan dengan ditetapkannya penyakit COVID-19 sebagai pandemi global dan makin meluasnya wabah penyakit yang disebabkan virus SARS-CoV-2 tersebut di Indonesia. Kemenkes menilai perlu dilakukan pencegahan penularan kepada dokter dan tenaga kesehatan di rumah sakit serta pasien yang berkunjung ke rumah sakit.

Isi imbauan tersebut, pertama, rumah sakit memberikan pelayanan pada pasien COVID-19 dan melengkapi semua kelengkapan penanganan kasus COVID-19 serta alat pelindung diri (APD). Hal ini berlaku bagi semua petugas kesehatan sesuai kriteria masing-masing ruang pelayanan atau risiko pelayanan.

Kedua, rumah sakit menunda pelayanan selektif, dengan tetap memberikan pelayanan yang bersifat gawat darurat dan membutuhkan perawatan segera untuk penyakit-penyakit selain COVID-19.
 
Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material (TIEM)  BPPT, Eniya Listiani tengah mendengarkan penjelasan mesin telemedicine untuk memudahkan dunia kedokteran serta telah diadopsi di RSUD Tangsel (Antara Foto/ Ganet)

Baca juga: BPPT: Sistem telemedicine pengobatan jarak jauh sedang uji lapangan

Ketiga, mengembangkan pelayanan jarak jauh (telemedicine) atau aplikasi daring lainnya dalam memberikan pelayanan kepada pasien dan keluarga pasien yang memerlukan.

Keempat, dokter, perawat dan tenaga kesehatan lain yang berusia di atas 60 tahun dan memiliki penyakit penyerta dianjurkan untuk bekerja di rumah dengan memanfaatkan fasilitas teknologi informasi demi terselenggara layanan "telemedicine".

Hindari Penularan
Pemerintah juga meminta masyarakat untuk menggunakan layanan kesehatan secara daring dalam melakukan konsultasi kesehatan pasien dengan dokter. Hal itu untuk menghindari penularan virus corona tipe baru di rumah sakit.

Pemerintah berharap layanan konsultasi medis sudah lebih banyak didorong untuk tidak melakukan kunjungan ke rumah sakit. Potensi risiko penularan virus corona dimulai dari perjalanan dari rumah pasien hingga antrean di rumah sakit.

Karena itu, dokter dan pasien diimbau tidak bertemu secara langsung. Rumah sakit juga diarahkan agar tidak memberikan ruang bagi dokter untuk kontak dekat dengan banyak orang di rumah sakit.

Hal itu berdasarkan mitigasi kemungkinan terjadinya penularan virus COVID-19 di rumah sakit yang tinggi. Karena itu, masyarakat diimbau untuk memanfaatkan layanan "telemedicine" yang tersedia.

Saat ini telah ada setidaknya 12 layanan perusahaan kesehatan digital yang tergabung dalam Indonesia Telemedicine Association (Atensi). Masyarakat juga bisa mengakses layanan konsultasi medis secara daring yang disediakan oleh perusahaan-perusahaan BUMN.

Dengan fasilitas layanan kesehatan secara "online", maka masyarakat tidak perlu bepergian keluar rumah dan datang ke rumah sakit untuk sekadar melakukan konsultasi ke dokter. Apalagi hingga kini terdapat peningkatan penggunaan layanan "telemedicine" di masyarakat.

Baca juga: Telemedicine diharapkan tingkatkan kompetensi dokter

Data sampai saat ini sudah lebih dari 300 ribu masyarakat yang memanfaatkan layanan "telemedicine". "Ini yang kita harapkan hari ke hari semakin meningkat sehingga lebih memudahkan layanan konsultasi medis," kata Yuri.

Dalam situasi seperti ini mengurangi kunjungan ke rumah sakit merupakan langkah menekan risiko yang cukup besar dari penyebaran COVID-19, kecuali untuk keadaan pasien yang gawat dan membutuhkan tindakan medis.

Wabah tampaknya telah membuka babak baru dunia kesehatan. Selamat menikmati pelayanan kesehatan terutama konsultasi secara "online" dan digital.

Pewarta : Sri Muryono
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar