Praktisi : Industri kreatif melejit saat pandemi COVID-19

id pandemi COVID-19,peluang tata suara,pekerjaan tata suara

Praktisi tata suara Aghi Narottama dalam webinar di Jakarta, Senin (15/6). (ANTARA/Indriani)

Jakarta (ANTARA) - Praktisi tata suara Aghi Narottama mengatakan industri kreatif semakin banyak memunculkan inovasi baru yang membuat sektor industri itu melejit meski di tengah pandemi COVID-19.

"Saat pandemi COVID-19, jenis pertunjukan baru berupa pertunjukan virtual semakin digemari," ujar Aghi dalam webinar "Tips dan Karir Studi di bidang Kreatif Seni Suara dan Fashion di Tengah Pandemi" yang diselenggarakan UniSadhuGuna International College di Jakarta, Senin.

Dia menambahkan dunia tata suara juga terus berinovasi dengan proses produksi berbasis teknologi dan sistem distribusi yang cepat, seperti streaming, demikian juga dengan industri film yang juga menarik.

Baca juga: investor pasar modal Sumut Januari - Mei 2020 bertambah 6.300 orang

"Apalagi, didukung dengan fakta bahwa jumlah penonton film Indonesia ternyata paling besar di Asia. Pasarnya luar biasa. Ini adalah kesempatan emas bagi kita untuk mengembangkan industri ini," kata Aghi yang juga Kepala Jurusan Penataan Suara dan Musik UIC College.

Dia menambahkan banyak yang beranggapan bahwa pandemi menjadi hambatan seseorang untuk belajar. Nyatanya kondisi itu justru memicu orang untuk belajar.

Selama pandemi COVID-19 atau sejak akhir Februari 2020, produksi musik meningkat global 30 hingga 40 persen dan juga pemasukan artis indipenden pun meningkat.

Saat ini, jurusan kuliah penataan suara dan musik masih jarang terdengar di Tanah Air. Akan tetapi, semakin banyak diminati oleh generasi muda seiring dengan perkembangan teknologi, media sosial dan industri hiburan lokal maupun internasional baik film, game, atau musik.

"Saat ini, secara global dan Indonesia banyak sekali industri yang menggunakan elemen suara, baik dalam hal suara sebagai konten maupun instalasi sistem suara, dan industri tersebut sangat membutuhkan penataan suara agar bisa memaksimalkan penggunaan elemen suara tersebut," tuturnya.

Baca juga: Industri film diyakini akan bangkit pasca-pandemi COVID-19

Baca juga: Sumbang Rp1.102 triliun, Kemenperin gencar telurkan industri kreatif


Ia mengatakan mulai dari industri musik, film, games, iklan, fashion, retail, rumah sakit hingga pabrik pesawat terbang pun membutuhkan penataan suara yang baik, Jadi, bisa dibayangkan besarnya industri yang sangat membutuhkan penataan suara yang baik.

Di Indonesia, lanjutnya, dalam setahun memproduksi sekitar 200 judul film. Dalam proses produksi tersebut, penataan suara melibatkan banyak talenta, seperti editor dialog, foley artist, sound effect editor hingga sound designer, bahkan dalam Oscar dan Festival Film Indonesia, penghargaan untuk audio disediakan khusus untuk mereka, sebagai apresiasi
terhadap peran mereka yang penting dalam kesuksesan sebuah film.

Pembelajaran di UIC College membentuk siswa untuk berkarya di bidang musik dan suara, baik sebagai musik produser,
penata suara dan direktur musik. Pihak kampus juga mengundang praktisi untuk ikut serta menyumbangkan ilmu yang dimilikinya.

Baca juga: Industri kreatif diyakini jadi penumpu ekonomi Indonesia masa depan

Ketua Indonesian Fashion Chamber (IFC), Ali Charisma mengatakan tantangan di dunia busana untuk para pemula adalah kurang lebih sama dengan tantangan di industri kreatif lainnya, bahwa setiap orang akan muncul berbeda-beda sesuai dengan kekuatan masing-masing.

"Tapi secara umum tantangan terbesar bagi perancang busana adalah di pemasaran, karena kebanyakan perancang busana lebih suka memproduksi dari pada menjual. Tantangan lainnya secara umum adalah menemukan gen dari merk yang tepat untuk perancang busana," ucapnya.

Pewarta : Indriani
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar