Riset Garuda: 70 persen calon penumpang tunda terbang akibat COVID-19

id Garuda Indonesia,penumpang pesawat,calon penumpang,tunda penerbangan

Dokumentasi - Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra di Kementerian BUMN, Jakarta. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/pri.

Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 60-70 persen pelanggan maskapai Garuda Indonesia memutuskan untuk menunda terbang karena pandemi COVID-19, berdasarkan riset yang dilakukan Garuda Indonesia.

“Riset menunjukkan 60-70 persen mereka yang biasa traveling mengatakan I will wait and see. Kebayang kan kalau 60 persen ini menunda sampai enam bulan, bisa kebayangkan bahwa pesawatnya 60 persen akan grounded (dikandangkan) untuk enam bulan ke depan. Ini sih kita bukan survival mood (bertahan) lagi, tapi mati suri,” kata Dirut Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa.

Sejumlah maskapai lain, contohnya Thai Airways sudah menyatakan bangkut karena kondisi paceklik ini, namun Irfan mengaku pihaknya akan terus bertahan.

“Cara yang paling bagus ya seperti Thai Airways, dibangkrutkan saja, terus dihidupkan lagi,” ujar Irfan.

Untuk itu ia mencari cara agar pelanggan bisa terbang dengan nyaman tanpa khawatir tertular COVID-19.

“Jadi kita minta dukungan semua pihak. Kita lagi cari cara nih bagaimana caranya, kita duduk bertiga di dalam satu pesawat tapi aman, misalnya pakai pembatas, atau kita bilang ‘kamu jangan tengok kanan kiri, napasnya ditahan  enggak gitu. Pokoknya kita cari cara agar orang merasa nyaman juga aman. Kan naik pesawat terbang ini industri kebahagiaan, jangan di dalam pesawat merasa enggak bahagia, merasa terdesak, atau begitu naik pesawat Oh Ini ICU apa bukan ya? semuanya pakai APD, ketutupan semua,” katanya.

Baca juga: Pendapatan Garuda anjlok 90 persen, 70 persen pesawat dikandangkan

Irfan mengaku menerima banyak keluhan terkait pramugari yang menggunakan masker karena senyumnya tak terlihat. Untuk itu ia menggantinya dengan pelindung wajah (face shield).

“Jadi interaksi humanis di dalam pesawat tetap terjadi, tapi minimal dan kemudian semua orang merasa aman tapi juga nyaman. Teknologi kita terapkan, tapi kita sangat terbuka dengan ide-ide kreatif. Apalagi kalau di pesawat bisa aman dan nyaman, bisa terisi 100 persen, wah kita lebih senang lagi,” katanya.

Menurut dia, kapasitas maksimal 70 persen di pesawat belum bisa mengembalikan pendapatan Garuda yang anjlok akibat pandemi COVID-19.

“Sekarang sudah 70 persen, tapi itu kalau untuk khususnya Garuda jatuhnya 63 persen karena tempat duduk Bpeing 737 kita itu tengahnya kosong, kita kan juga ada business class, jadi sendiri-sendiri. Pertanyaannya apakah itu cukup iuntuk menghidupi kita? tentunya tidak. Jawabannya tegas sekali enggak,” katanya.

Untuk menopang keuangan Garuda yang tengah merosot, Irfan mengatakan pihaknya juga berfokus pada pengiriman logistik dengan meluncurkan KirimAja.

“Kita mencari celah-celah baru dibalik kesulitan, salah satunya mendorong bisnis kurir, dulu melibatkan orang lain masuk ke kargo garuda, kita luncurkan KirimAja. Sekarang mobilitas terbatas dan orang berkirim barang ini menarik,” katanya.

Baca juga: Dirut: Garuda harus tetap terbang bahkan dalam kondisi "perang"


Pewarta : Juwita Trisna Rahayu
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar