Pimpinan DPRD minta hiburan malam tidak diutamakan dibanding sekolah

id Corona,COVID-19,DPRD DKI Jakarta,Zita Anjani

Dokunentasi - Suasana di depan diskotek Old City yang disegel oleh Satpol PP di Kawasan Kota Tua Jakarta, Selasa (23/10/2018). Pemprov DKI Jakarta menutup dan menyegel sementara Diskotek Old City hingga menunggu proses penyelidikan oleh kepolisian dan pengurusan pencabutan izin usaha terkait kasus narkoba. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/foc.

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Zita Anjani meminta pembukaan tempat hiburan malam seperti diskotek dan griya pijat, tidak diutamakan dibandingkan dengan sekolah.

"Kalau tempat pijat plus-plus dan karaoke itu buat apa? Menurut saya sekolah yang harus diutamakan," kata Zita di Jakarta, Jumat.

Pembukaan sekolah akan dilakukan pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi fase II. Sedangkan tempat hiburan malam direncanakan pada fase III, namun ada perjanjian lisan jika protokol kesehatannya telah rampung, pembukaannya akan lebih cepat.

Namun demikian, untuk jadwal pembukaan kedua tempat tersebut belum ditentukan karena DKI masih menunggu hasil evaluasi PSBB transisi fase I yang dimulai dari 5 Juni 2020.

Untuk pembukaan kembali sekolah, kata politisi PAN ini, sangat diperlukan terlebih menjelang normal baru di tengah pandemi COVID-19. Yang paling mendesak harus cepat dibuka adalah perguruan tinggi.

"Kampus-kampus harus sudah buka supaya mahasiswa-mahasiswa kita secepatnya lulus jadi dokter dan jadi perawat dan ilmuwan bikin vaksin," ujar Zita.

Baca juga: Protokol kesehatan untuk diskotek belum diputuskan
Baca juga: Anies: PSBB masih berlaku di Jakarta


Zita menyebutkan para mahasiswa yang mata kuliahnya berkaitan dengan praktik, sangat sulit menyerap pengetahuan jika belajar dari rumah baik dengan buku maupun dalam jaringan (daring) yang selama ini diterapkan kementerian dan pemerintah daerah selama COVID-19.

Padahal, seperti mahasiswa kedokteran dan keperawatan, sangat membutuhkan laboratorium atau tempat praktik untuk mengaplikasikan materi yang diajarkan di kampus.

"Mahasiswa kedokteran kita apa kabarnya karena sudah tiga bulan tidak kuliah. Mana bisa belajar kesehatan cuma mikir di internet, kan harus praktik membelah mayat segala macam," kata Zita.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan pihaknya baru akan membuka operasional sekolah ketika kasus COVID-19 di wilayah setempat dinyatakan aman. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI ini menyebut, saat ini sekolah belum dinyatakan aman dibuka kembali untuk anak-anak.

"Kami di Jakarta belum ada rencana membuka sekolah. Sampai kondisi wabah di DKI benar-benar terkendali dan aman untuk anak-anak," kata Anies Baswedan di Mal Kota Kasablanka, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan pada Selasa (16/6).

Sementara terkait tempat hiburan malam, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) DKI Jakarta Cucu Ahmad Kurnia menyatakan pemerintah daerah sangat berhati-hati dalam menentukan protokol kesehatan di tempat hiburan malam.

"Dalam menentukan protokol kesehatan kami sangat berhati-hati, dan jumlah pengunjung kemungkinan juga dibatasi (di setiap tempat hiburan)," kata Kepala Dinas Parekraf DKI Jakarta Cucu Ahmad Kurnia pada Rabu (3/5).
 

Pewarta : Ricky Prayoga
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar