Oposisi nilai pengangguran di Malaysia tertinggi dalam sepuluh tahun

id Malaysia,Pengangguran Malaysia,Pakatan Harapan

Sejumlah pekerja pada sebuah bangunan bertingkat di Kuala Lumpur. ANTARA Foto/Agus Setiawan

Kuala Lumpur (ANTARA) - Koalisi partai oposisi yang tergabung dalam Pakatan Harapan (PH) menilai angka pengangguran di Malaysia saat ini tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir.

"Pemerintah Malaysia mesti lebih agresif dan berani menjamin pekerjaan di tengah kemerosotan ekonomi yang semakin memburuk," ujar pimpinan PH dalam pernyataannya di Kuala Lumpur, Jumat.

Pernyataan disampaikan Shamsul Iskandar Mohd Akin (Partai Keadilan Rakyat/Keadilan), Dr Hatta Ramli (Partai Amanah Negara/Amanah) dan Liew Chin Tong (Partai Tindakan Demokratik/DAP).

Berdasarkan angka terbaru Kantor Statistik Malaysia tingkat pengangguran telah melonjak dari 3.2 persen pada bulan Januari menjadi 5.0 persen pada April 2020.

"Ini adalah tingkat pengangguran bulanan paling buruk dalam tempo lebih sepuluh tahun. Ia akan kian meningkat dengan bertambahnya pemberhentian pekerja oleh perusahaan-perusahaan sepanjang bulan Mei dan Juni," katanya.

Mereka mengatakan kadar 5.0 persen (bersamaan hampir 800,000 orang) adalah sangat tinggi.

"Malangnya prosentase ini tidak menekankan masalah yang sedang kita hadapi. Akibat teknis dalam perkiraan angka tersebut, sekurang-kurangnya dua kelompok tidak termasuk dalam prosentase pengangguran 5.0 persen ini," katanya.

Pertama, 4.9 juta orang yang tidak dimasukkan ke dalam penghitungan. Standar yang digunakan Kantor Statistik dan panduan yang disediakan International Labour Organisation (ILO) mengklasifikasikan kelompok individu ini sebagai bekerja kerana mereka diandaikan mempunyai pekerjaan untuk kembali lagi pada masa akan datang.

Namun bertentangan dengan harapan ini tidak ada jaminan sebenarnya bahwa pekerjaan tersebut akan terus terwujud.

"Supaya resiko ini diberi perhatian, kalau pun 10 persen dari kelompok ini kehilangan pekerjaan mereka, maka tingkat pengangguran akan bertambah dua kali lipat berbanding angka April 2020," katanya.

Kedua, 161.000 orang yang telah keluar dari pasar kerja dan atas sebab tersebut mereka dikira menganggur oleh Kantor Statistik. Banyak diantaranya disebut sebagai telah hilang semangat dengan kata lain mereka telah berputus asa mencari pekerjaan.

"Keanehan dalam mengira prosentase pengangguran pada saat yang begitu tidak menentu memungkinkan kita meremehkan ketegangan dalam pasar kerja," katanya.

Justru itu, ujar dia, pemerintah mesti mengambil pendekatan yang lebih bersifat pencegahan terhadap data tersebut dan bertindak lebih agresif dalam menangani kemerosotan ekonomi ini dari segi menjamin pekerjaan serta mendukung penghasilan peluang pekerjaan baru.

PH meminta pemerintah memperluas sektor kesehatan dan sistem pendidikan umum.

"Ketersediaan peluang pekerjaan berkualitas adalah penting dalam membina dasar ekonomi yang kukuh bagi memulihkan ekonomi dan mengekalkan standar kehidupan seluruh rakyat Malaysia," katanya.

Baca juga: Malaysia tidak bisa lagi tampung pengungsi Rohingya

Baca juga: LSM Malaysia minta Indonesia selamatkan pengungsi Rohingnya

 

Pewarta : Agus Setiawan
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar