Bamsoet: Nelayan harus menjadi profesi menjanjikan dan sejahtera

id Nelayan,Bambang Soesatyo,COVID-19,hnsi

Kapal nelayan bersandar di Pelabuhan Tempat Pelelangan Ikan Klidang Lor I, Kabupaten Batang setelah melakukan pembongkaran hasil tangkapan ikan untuk dilelang. ANTARA/Kutnadi

Jakarta (ANTARA) - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengatakan nelayan seharusnya menjadi profesi yang menjanjikan dan penuh kesejahteraan mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang kaya sumber daya laut.

"Dengan kekayaan sumber daya alam bahari yang berlimpah, mayoritas nelayan Indonesia masih hidup dalam kemiskinan, adalah sebuah paradoks," ujar Bamsoet saat memberikan arahan pada Rapat Pimpinan Nasional virtual Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), dari Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta, Rabu.

Menurut dia, penangkapan ikan ilegal oleh kapal-kapal asing dan keterbatasan kemampuan nelayan dalam menghadapi persaingan menjadi beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas nelayan.

"Kondisi ini juga mendorong penurunan jumlah nelayan, karena profesi nelayan dipandang tidak menjanjikan. HNSI harus tetap berdiri di garis terdepan memperjuangkan nasib nelayan," kata Bamsoet.

Sebagai Ketua Dewan Penasihat DPP HNSI, Bamsoet berharap Rapimnas bisa menjadi momentum menguatkan soliditas dan kematangan organisasi HNSI.

Baca juga: Pengamat: Digitalisasi perikanan perlu konsisten pendampingan nelayan

Baca juga: HNSI ungkap kekhawatiran nelayan kecil di tengah wabah Corona


Ia mengemukakan badan pangan dunia (food and agricultural organization/FAO) mencatat potensi lestari sumber daya perikanan tangkap laut Indonesia mencapai sekitar 6,5 juta ton per tahun dengan tingkat pemanfaatan mencapai 5,71 juta ton per tahun.

Sementara potensi lestari sumber daya ikan laut diperkirakan sebesar 12,54 juta ton per tahun yang tersebar di perairan wilayah Indonesia dan perairan ZEE.

"Dengan luas perairan 5,8 juta kilometer persegi yang meliputi laut teritorial seluas 0,3 juta kilometer persegi, luas perairan kepulauan 2,95 juta kilometer persegi, dan luas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 2,55 juta kilometer persegi, bisa dibayangkan sangat besar sekali potensi sumber daya laut yang dimiliki Indonesia," katanya.

Kendati demikian, ia mengatakan, pandemi COVID-19 memicu harga ikan hasil tangkapan turun drastis karena permintaan yang turun.

Ia meminta pemerintah untuk membeli produksi hasil nelayan, menjamin lalu lintas suplai logistik beserta sarana dan prasarana penunjangnya, mendorong kerjasama antar lini untuk menciptakan sinergi yang optimal, melaksanakan optimalisasi sistem resi gudang atau sistem tunda jual, serta berbagai kebijakan lainnya.

"Keberhasilan penanganan pandemi COVID-19 memerlukan komitmen dan kerja bersama seluruh komponen bangsa," katanya.

Baca juga: HNSI harapkan pemerintah beli hasil tangkapan nelayan
 

Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar