Menteri dorong riset pangan tangani kekerdilan di tengah pandemi

id Stunting,Covid-19

Tangkapan layar Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta pada Rabu (24/6/2020). ANTARA/Prisca Triferna/am.

Jakarta (ANTARA) - Riset pangan dan nutrisi sebagai solusi penanganan kekerdilan di tengah pandemi COVID-19 harus terus didorong pelaksanaannya, kata Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang P.S. Brodjonegoro.

"Selain pemenuhan kebutuhan di masa pandemi, nutrisi untuk pencegahan 'stunting' (kekerdilan) juga harus menjadi perhatian. Jangan sampai 'stunting' menjadi bencana baru dengan dampak yang lebih besar di masa depan," kata Menristek Bambang dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan hampir semua daerah yang terkonfirmasi kasus COVID-19 memiliki prevalensi kekerdilan sedang bahkan tinggi, sehingga penanganan dan pelayanan kesehatan serta gizi dalam situasi pandemi COVID-19 menjadi penting, untuk mencegah masalah gizi yang lebih besar.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Danone SN Indonesia telah melakukan inisiasi kerja sama sejak April 2020, mengembangkan produk makanan sehat untuk pemenuhan nutrisi melalui pemanfaatan teknologi pangan, yakni biskuit Probarz dan mi Aitamie.

Probarz dan Aitamie merupakan dua makanan sehat yang diproduksi di fasilitas produksi Pusat Penelitian Teknologi Tepat Guna LIPI di Subang, Jawa Barat dengan dukungan penyediaan bahan baku dan bahan pendukung berupa susu dan bahan fortifikan, yang meliputi premix, vitamin, dan mineral dari Danone SN.

LIPI dan Danone SN Indonesia juga menyerahkan donasi pangan fortifikasi kepada Foodbank of Indonesia. Donasi yang diberikan berupa 5.000 bungkus Probarz dan 4.000 bungkus Aitamie.

Di samping itu, Menristek Bambang mengatakan pentingnya pemanfaatan teknologi bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai upaya memulihkan ekonomi Indonesia.

Baca juga: Pakar dorong mahasiswa lakukan riset pangan atasi dampak COVID-19

Dia menuturkan perlunya pemberian insentif eksposur digital bagi pelaku UMKM yang terkena dampak pandemi COVID-19 sebagai upaya bersama dalam memulihkan ekonomi serta mendorong pertumbuhan sektor usaha skala menengah ke bawah.

"Selain mengatasi kondisi saat ini, fokus utama kita adalah memulihkan kondisi ekonomi kita. Keadaan akan benar-benar normal ketika vaksinasi massal dilakukan. Dari segi waktu memang akan lama, namun kita tetap harus menjaga stabilitas ekonomi dengan berbagai upaya. Upaya agar kita tetap aman dari COVID-19, tapi kegiatan ekonomi tetap berjalan," tuturnya.

Ia mengatakan saat ini banyak UMKM yang gulung tikar akibat ketergantungan dengan pola konvensional.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan UMKM untuk bertahan pada masa pandemi, dengan pemanfaatan teknologi, karena teknologi dinilai dapat menjadi jawaban untuk membangun kembali ekonomi pada normal baru.

“Dengan konsep 'less contact economy', di mana perubahan pola konsumsi yang awalnya 'offline' sekarang menjadi 'online' menjadi indikasi bahwa pelaku UMKM memiliki kesempatan dalam meningkatkan usahanya melalui sistem perdagangan elektronik,” ujarnya.

Baca juga: Untuk imunitas saat pandemi, LIPI-Danone buat makanan cegah "stunting"
Baca juga: Angka masalah gizi pada anak akibat COVID-19 dapat meningkat tajam

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar