Survei: mayoritas pengangguran ingin RUU Cipta Kerja segera disahkan

id RUU Cipta Kerja

Aktivis Greenpeace memasang poster pada manekin saat aksi damai menolak pembahasan RUU Cipta Kerja di depan Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (29/6/2020). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/wsj. (ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA)

Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 54 persen atau mayoritas pengangguran di Indonesia mendukung RUU Cipta Kerja untuk segera disahkan pada Agustus 2020, menurut hasil survei nasional Saiful Mujani Research Center (SMRC) tentang Sikap Publik Terhadap RUU Cipta Kerja.

“Dukungan terhadap RUU Cipta Kerja yang lebih tinggi terdapat pada kelompok pengangguran atau masih mencari pekerjaan yakni sebesar 54 persen,” kata Direktur Riset SMRC Deni Irvani saat memaparkan hasil survei opini publik nasional dengan tema sikap publik terhadap RUU Cipta Kerja, Selasa.

Selain pengangguran, masih menurut Deni Irvani, kelompok ibu rumah tangga, pedagang warung atau kaki lima, dan buruh, pembantu, satpam dan pekerja tidak tetap menjadi kelompok yang paling tinggi mendukung RUU Cipta Kerja untuk segera disahkan.

SMRC juga menyebut bahwa 52 persen dari masyarakat yang tahu, juga mendukung Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (RUU Cipta Kerja) untuk segera disahkan. Sebesar 26 persen masyarakat mengakui tahu atau pernah mendengar RUU Cipta Kerja.
Baca juga: Stafsus Menkeu katakan banyak terobosan di RUU Cipta Kerja

“Dari 26 persen masyarakat yang mengaku tahu dan pernah mendengar RUU Cipta Kerja, ada 52 persen yang mendukung pengesahan RUU Cipta Kerja, dan yang tidak sekitar 37 persen,” ujar Deni.

Deni menjelaskan dukungan publik terhadap RUU Cipta Kerja ini didasari oleh kondisi ekonomi Indonesia yang semakin memburuk selama masa pandemi.

Kondisi ekonomi yang memburuk ini, lanjutnya, mempengaruhi dan dirasakan langsung dalam kondisi ekonomi rumah tangga di berbagai daerah Nusantara.
Baca juga: IGJ soroti penerapan deregulasi dalam RUU Cipta Kerja

“71 persen mayoritas warga merasa kondisi ekonomi rumah tangganya sekarang lebih buruk atau jauh lebih buruk dibanding sebelum ada wabah COVID-19,” jelas Deni.

SMRC melakukan survei nasional melalui telepon pada 8-11 Juli 2020. Sampel sebanyak 2.215 responden dipilih secara acak dari koleksi sampel acak survei tatap muka yang telah dilakukan SMRC sebelumnya dengan jumlah proporsional menurut provinsi untuk mewakili pemilih nasional. Margin of error survei diperkirakan +/-2.1 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, asumsi simple random sampling.

Baca juga: Survei : 52 persen masyarakat mendukung pengesahan RUU Cipta Kerja

Pewarta : Afut Syafril Nursyirwan
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar