Pakar: Pemahaman protokol kesehatan harus dikomunikasikan secara masif

id tim pakar ULM,Universitas Lambung Mangkurat , covid-19 kalsel

Anggota Tim Pakar untuk Percepatan Penanganan COVID-19 Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof. Dr. dr. Syamsul Arifin. (ANTARA/Firman)

Banjarbaru (ANTARA) - Anggota Tim Pakar untuk Percepatan Penanganan COVID-19 Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof. Dr. dr. Syamsul Arifin mengatakan, pemahaman tentang protokol kesehatan secara benar harus dikomunikasikan kepada masyarakat secara masif, lengkap dan benar.

"Ketika kita gagal mengkomunikasikan, maka orang akan berasumsi dengan pemahaman mereka masing-masing, dan ini dikuatirkan akan semakin menimbulkan perilaku acuh tak acuh terhadap penerapan protokol kesehatan," kata Syamsul di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Selasa.

Apalagi merujuk survei BPS kepada 87.379 responden, diketahui bahwa Generasi Z yang berusia di kisaran 10 hingga 22 tahun dinilai paling sulit mengikuti protokol kesehatan pencegahan COVID-19 dengan benar.

Maka Syamsul menilai protokol kesehatan penting disadari oleh seluruh lapisan masyarakat dari segala usia, yaitu tak hanya perlindungan kesehatan individu, namun dalam rangka perlindungan kesehatan masyarakat secara luas.

Baca juga: Panglima TNI: Tegakkan disiplin kesehatan cegah penyebaran COVID-19

Baca juga: Pemkot Mataram jaga ketat pintu masuk cegah penyebaran COVID-19


"Masyarakat selama ini hanya mengenal 3M yaitu menggunakan masker, membersihkan tangan secara teratur dan menjaga jarak. Padahal ada 6M yang juga perlu diterapkan, yakni menghindari kerumunan, menghindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang tidak bersih, meningkatkan daya tahan tubuh, aktivitas fisik minimal 30 menit sehari dan istirahat yang cukup serta menghindari faktor risiko penyakit," ujar Guru Besar Ilmu Kesehatan Fakultas Kedokteran ULM itu.

Syamsul memaparkan, pentingnya penerapan protokol kesehatan dalam bentuk perlindungan kesehatan individu ini terutama aktivitas cuci tangan dengan sabun dapat menurunkan risiko tertular COVID-19 sekitar 35 persen, menggunakan masker biasa sekitar 45 persen, menggunakan masker bedah sekitar 70 persen serta menjaga jarak minimal 1 meter sekitar 85 persen.

"Jadi kalau kita disiplin, Insya Allah selesai ini barang. Penyebaran COVID-19 dapat segera kita akhiri," ucapnya.

Disamping itu, hal yang perlu ditekankan adalah penggunaan masker yang benar. Karena banyak peristiwa, menurutnya, yang menunjukkan penggunaan masker yang salah. Di antaranya jika berbicara maskernya dibuka, maskernya hanya menutup mulut tanpa menutup hidung dan malah dibuka hanya menutup dagu saja.

"COVID-19 merupakan penyakit komunal, oleh karena itu sangat dibutuhkan peran dan kekompakan antar individu dalam rangka mencegah transmisinya semakin meningkat. Prinsip utama pencegahan atau penurunan transmisi penyakit ini adalah melalui penerapan protokol kesehatan yang ketat," katanya.*

Baca juga: Thailand perketat perbatasan cegah gelombang kedua COVID-19

Baca juga: Protokol kesehatan disosialisaikan pada apel perdana Pemkab Bekasi

Pewarta : Firman
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar