Intensitas emisi diproyeksikan turun 22 persen dengan pelaksanaan LCDI

id emisi rumah kaca,PPN/bappenas,pembangunan rendah karbon Indonesia, LCDI

Pekerja membersihkan kaca bangunan bertingkat di kawasan Setiabudi, Jakarta, Kamis (24/5/2018). Berdasarkan data Badan Perencanaan Nasional (Bappenas) menargetkan penurunan emisi karbon gas rumah kaca hingga 26 persen pada 2020 salah satunya dengan melakukan perencanaan pembangunan rendah karbon. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian PPN/Bappenas memproyeksikan intensitas emisi gas rumah kaca Indonesia dapat turun 22 persen jika menjalankan Pembangunan Rendah Karbon Indonesia (Low Carbon Development Indonesia/LCDI).

Staf Direktorat Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Irfan Darliazi dalam Webinar LCDI Talks Goes to Campus di Jakarta, Rabu, mengatakan perencanaan Pembangunan Rendah Karbon Indonesia dikembangkan berdasarkan kajian berbasis bukti dan diintegrasikan di Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Berdasarkan kajian di bawah Bappenas, perencanaan pembangunan rendah karbon tersebut dibuat dapat mengakomodasi ekonomi dan sosial, namun tetap mampu mempertahankan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Baca juga: Pemerintah kerja keras capai penurunan emisi gas rumah kaca 26 persen

Baca juga: Pemerintah antisipasi lonjakan emisi saat pemulihan ekonomi nasional

Dalam LCDI, menurut dia, proyeksi pertumbuhan ekonomi cukup baik rata-rata enam persen, begitu pula untuk Produk Domestik Bruto (PDB) juga meningkat dengan baik. Terjadi penurunan tingkat kemiskinan 4,2 persen sebagai dampak positif perbaikan lingkungan.

Dengan LCDI, katanya, harapannya target penurunan emisi GRK Indonesia di 2030 untuk memenuhi Paris Agreement terpenuhi dan di saat yang sama intensitas emisi turun 22 persen.

Meski demikian, tantangan pembangunan berkelanjutan saat ini banyak, salah satunya pandemi COVID-19, sehingga perlu kebijakan pembangunan yang lebih adaptif dalam LCDI.

Dari pandemi COVID-19 tentu bisa dilihat tidak hanya dampak kesehatan dan sosial saja, tetapi juga dampak pertumbuhan ekonomi yang turun dari 5,02 persen ke 2,8 persen. PDB turun ke 2,97 persen, sedangkan angka pengangguran diperkirakan 2,92 juta orang.

Baca juga: PBB: Emisi gas rumah kaca capai rekor baru, dapat bawa efek merusak

Oleh karena itu, kata Irfan, penanganan pandemi COVID-19 jangan sampai mempengaruhi ekonomi. Ada kekhawatiran karena ingin menggenjot ekonomi pascakrisis kesehatan, maka isu lingkungan juga menjadi parah. "Ini yang dihindari,” ujar dia.

Dalam dua tahun ke depan pemulihan ekonomi akan dilakukan, harapannya pembangunan dikerjakan dengan menjalankan build back better, sehingga dampak lingkungan dapat ditekan, pembangunan ekonomi menjadi lebih tangguh, terjadi penciptaan lapangan kerja, aspek kesehatan jadi lebih tangguh, kebutuhan sehari-hari pangan berkelanjutan, dan mampu melakukan mitigasi bencana di masa depan.


Pewarta : Virna P Setyorini
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar