Pengasuhan anak kunci utama cegah kekerdilan

id Pengasuhan Anak,Stunting,Lenny N Rosalin,Tumbuh Kerdil,Pusat Pembelajaran Keluarga,Puspaga,Pandemi COVID-19,ASI Eksklusif,Pencegahan Perkawinan Anak,R

Ilustrasi cegah stunting (ANTARA/HO)

Jakarta (ANTARA) - Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Lenny N. Rosalin mengatakan pengasuhan anak yang baik merupakan kunci utama untuk mencegah kasus kekerdilan pada pertumbuhan anak.

"Karena itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak terus mengampanyekan tentang pengasuhan anak yang memenuhi hak-hak anak," kata Lenny saat dihubungi di Jakarta, Jumat.

Lenny mengatakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengandalkan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) yang ada di seluruh Indonesia.

Keluarga dapat berkonsultasi dilayani oleh tenaga relawan dan psikolog yang ada di Puspaga mengenai pola pengasuhan anak yang baik dan memenuhi hak-hak anak.

"Walaupun saat ini Puspaga baru ada di 135 titik, dengan pandemi COVID-19 layanannya sudah menjadi daring sehingga bisa melayani keluarga di seluruh Indonesia. Bahkan ada Puspaga yang melayani keluarga Indonesia di luar negeri," tuturnya.

Selain pengasuhan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak juga terus mengampanyekan tentang pemberian air susu ibu (ASI) ekslusif kepada bayi.

Baca juga: Menteri PPPA: Pengasuhan anak bukan hanya tugas perempuan

Menurut Lenny, kampanye ASI eksklusif juga melibatkan sejumlah laki-laki yang berperan sebagai ayah ASI, yaitu suami yang memberikan dukungan kepada istrinya dalam memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.

"Yang tidak kalah penting adalah kampanye pencegahan perkawinan anak. Dampak perkawinan anak sangat luas, salah satunya adalah menghasilkan anak-anak yang berpotensi stunting (kekerdilan)," jelasnya.

Salah satu hal yang cukup memprihatinkan adalah hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) terkait dengan konsumsi masyarakat miskin yang menempatkan pembelanjaan beras dan rokok pada posisi pertama dan kedua.

Masyarakat miskin lebih banyak menggunakan uangnya untuk membeli rokok daripada untuk memenuhi gizi anak, misalnya untuk membeli daging dan telur.

"Perlu ada upaya untuk mengubah pola konsumsi masyarakat agar mengalihkan pembelanjaan untuk rokok kepada daging dan telur sehingga gizi anak bisa terpenuhi dan tidak stunting," katanya.

Baca juga: Menteri PPPA: Keluarga lembaga pertama-utama pelindungan anak
Baca juga: Menteri PPPA: 135 Puspaga perkuat pengasuhan anak di keluarga

 

Pewarta : Dewanto Samodro
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar