Pandemi, KKP akui mendatangkan investasi tak ringan dan perlu sinergi

id investasi sektor kelautan dan perikanan,pandemi,kkp

Pandemi, KKP akui mendatangkan investasi tak ringan dan perlu sinergi

ilustrasi sektor perikanan tangkap yang menjadi taget investasi Pelindo IV Makassar, Senin (13/1/2020). ANTARA Foto/Suriani Mappong

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bertekad untuk terus mendatangkan investasi sektor kelautan dan perikanan baik dari dalam maupun luar negeri, meski menghadapi kondisi yang tidak ringan pada masa pandemi COVID-19.

"Di tengah-tengah situasi pandemi, mendatangkan investasi setiap tahun merupakan pekerjaan yang tidak ringan, karena itu memerlukan sinergi seluruh stakeholder (pemangku kepentingan) sektor kelautan dan perikanan," kata Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP Artati Widiarti dalam acara webinar yang digelar di Jakarta, Kamis.

Menurut Artati, sinergi antarpemangku kepentingan selain bakal meningkatkan iklim bisnis kondusif juga akan mengefektifkan penyebaran informasi peluang investasi kepada calon investor yang prospektif.

Baca juga: KKP dorong komoditas rumput laut diolah jadi mi dan jus

Ia mengungkapkan, berdasarkan kinerja investasi sektor kelautan dan perikanan sampai dengan triwulan II-2020 atau periode bulan Januari-Juni, realisasi investasi sektor kelautan dan perikanan yang bersumber kepada PMA (Penanaman Modal Asing) dan PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) mencapai Rp2,09 triliun atau tumbuh 40,29 persen dibandingkan perode yang sama tahun 2019.

Dari jumlah investasi tersebut, pengolahan dan budidaya adalah bidang kontribusi tertinggi dalam realisasi investasi dengan proporsi masing-masing 46,05 persen dan 31,94 persen, kemudian disusul perdagangan dan penangkapan dengan porsi masing-masing 18,13 persen dan 3,89 persen.

Selain itu, ujar Artati, realisasi investasi PMA di sektor kelautan dan perikanan sampai triwulan II-2020 didominasi oleh enam negara, di mana lima di antaranya merupakan negara yang berasal dari benua Asia, yaitu Republik Rakyat China, Singapura, Thailand, India, dan Jepang.

"Singapura dan Thailand adalah dua negara yang aktif melakukan investasi terutama di bidang pembekuan dan pengolahan ikan, serta budidaya udang dan air tawar," katanya.

Baca juga: KKP: Gebyar pasar laut pamerkan 500 produk UMKM unggulan

Pemerintah, masih menurut dia, mendorong investasi ramah lingkungan guna mencapai pembangunan kelautan dan perikanan yang lebih berkelanjutan.

Dengan demikian, lanjutnya, maka pelaku usaha kelautan dan perikanan diimbau untuk memperhatikan pengelolaan sumber dayanya, menjaga keseimbangan dan kelanjutan ekosistem, serta kelestarian lingkungan.

Ia juga mengemukakan bahwa secara nasional, pemerintah memberikan kemudahan calon investor baik dalam maupun luar negeri, seperti penyederhanaan perizinan melalui OSS (Online Single Submission) serta dengan adanya kebijakan tax allowance.

"Kami berharap yang dilakukan pemerintah memberikan kemdudahan bagi pelaku usaha agar dapat menjalankan usahanya dengan mudah," kata Artati.

Sementara itu, Direktur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) London, Aditia Prasta menyatakan bahwa Indonesia sangat potensial tetapi masih belum banyak yang bisa dimanfaatkan.

Menurut Aditia, investor memperhatikan infrastruktur logistik dan iklim bisnis nasional yang sekarang telah mendapatkan dukungan untuk dibenahi secara menyeluruh.

Selain itu, ujar dia, calon investor juga dinilai membutuhkan ketersediaan informasi yang siap atau investment project ready to offer (IPRO), identifikasi dan pendataan calon mitra lokal, keberadaan narahubung yang reliabel untuk memfasilitasi kebutuhan teknis calon investor seperti terkait regulasi dan perizinan.

Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar