Aktivis feminis di Meksiko tuntut keadilan soal penculikan perempuan

id protes di meksiko,penculikan perempuan,pembunuhan perempuan,feminis meksiko,presiden meksiko,Andres Manuel Lopez Obrador

Aktivis feminis di Meksiko tuntut keadilan soal penculikan perempuan

Para wanita membawa spanduk menuju lintas perbatasan Meksiko-AS, San Ysidro dalam aksi protes menentang kekerasan terhadap perempuan dan gender, di Tijuana, Meksiko, Jumat (21/2/2020). REUTERS/Jorge Duenes/hp/djo (REUTERS/JORGE DUENES)

Mexico City (ANTARA) - Aktivis feminis dan keluarga korban meningkatkan aksi protes di kantor pusat Komisi Hak Asasi Manusia di Meksiko pada Senin (7/9), setelah menduduki gedung itu pekan lalu untuk menuntut keadilan terkait perempuan korban penculikan dan penyerangan.

Para aktivis merusak marka kantor dengan palu serta memasang spanduk dan menuliskan slogan di dinding pada akhir pekan lalu sebagai luapan kemarahan atas apa yang mereka sebut sebagai kurangnya aksi pemerintah untuk menangani kejahatan.

Sejak pekan lalu, kepala Komisi HAM Meksiko terpaksa harus bekerja di kantor yang berbeda akibat adanya aksi protes tersebut.

Kemarahan demonstran semakin menjadi-jadi setelah Presiden Andres Manuel Lopez Obrador mencaci para aktivis karena merusak gambar Francisco Madero, mantan presiden yang dibunuh, dan dianggap banyak pihak sebagai pahlawan dalam revolusi di negara itu tahun 1910-1920.

"Mereka yang merusak gambar Madero, atau tidak tahu sejarah mengenai dia, melakukan hal dengan tidak sadar, atau mereka sendiri memang konservatif," ujar Lopez Obrador. Ia menekankan simpati kepada para aktivis, namun menolak vandalisme.

Merespons pernyataan tersebut, para peserta aksi protes memulaskan cat pada gambar lebih banyak figur sejarah Meksiko.

Dengan berdiri di depan salah satu gambar tokoh yang dicat, seorang aktivis feminis mencela Lopez Obrador atas apa yang disebut olehnya sebagai "rasa murka yang salah tempat."

"Bagaimana Anda bisa merasa murka soal gambar ini, tapi tidak soal bagaimana anak perempuan saya dilecehkan?" kata aktivis tersebut.

Lebih dari 70.000 orang dilaporkan hilang di Meksiko, sejak militer diterjunkan pada 2006 untuk melakukan penindakan kriminal. Sebagian besar korban hilang diyakini telah diculik oleh kelompok kriminal bersenjata.

Sementara itu, pembunuhan berbasis gender terhadap perempuan, atau bisa disebut dengan istilah femicide, di negara itu meningkat sebesar 5% selama paruh pertama tahun ini dibandingkan periode waktu yang sama pada tahun lalu.

Sumber: Reuters
Baca juga: Gubernur di Meksiko minta maaf atas kekerasan polisi pada aksi protes
Baca juga: Protes atas kekerasan polisi merebak lagi di Meksiko
Baca juga: Belasan jasad ditemukan di Meksiko saat kekerasan melonjak

 

Pewarta : Suwanti
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar