Peretas dukungan Rusia diduga menarget perusahaan kampanye Joe Biden

id peretas rusia,kampanye presiden AS,joe biden,microsoft,SKDK

Peretas dukungan Rusia diduga menarget perusahaan  kampanye Joe Biden

Ilustrasi: serangan/peretasan di dunia siber. (msn.com)

Washington (ANTARA) - Perusahaan teknologi Microsoft baru-baru ini memperingatkan bahwa perusahaan konsultasi kampanye utama kandidat presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, dijadikan target oleh peretas yang diduga terafiliasi dengan Pemerintah Rusia, menurut tiga narasumber terkait masalah ini.

Percobaan peretasan dilakukan lebih dari dua bulan belakangan, menarget seorang staf di perusahaan kampanye bernama SKDKnickerbocker--yang berbasis di Washington, AS, dan menjalin kerja sama dengan Biden serta sejumlah tokoh terkemuka Partai Demokrat.

SKDK terasosiasi dekat dengan Partai Demokrat setelah bekerja untuk enam kampanye presiden dari partai itu dan sejumlah pemilihan di kongres. Pada 2018, perusahaan ini berhasil memenangkan pemilihan gubernur di Kansas dan Connecticut.

Baca juga: Trump yakin Rusia berhenti campuri pemilu Amerika Serikat
Baca juga: Diam-diam Trump undang Putin ke Amerika


Seorang sumber yang mengetahui respons SKDK terhadap  peretasan tersebut mengatakan bahwa peretas gagal memperoleh akses terhadap jaringan perusahaan.

"Mereka punya pertahanan yang baik, sehingga tidak ada kebocoran," kata narasumber tersebut.

Seorang narasumber lain mengatakan bahwa masih belum jelas apakah peretas Rusia itu menargetkan kampanye Biden atau klien SKDK lainnya.

Ketiga narasumber menyebut bahwa serangan siber itu termasuk phising, metode peretasan yang mengecoh pengguna jaringan untuk mengungkapkan kata sandi mereka, serta upaya-upaya lain untuk menyusup ke dalam jaringan SKDK.

Pihak SKDK belum mengeluarkan komentar secara resmi, demikian juga dengan juru bicara Biden dan pihak Microsoft.

Percobaan peretasan terhadap SKDK muncul seiring dengan peringatan dari badan intelijen AS mengenai upaya yang mungkin dijalankan oleh pemerintahan asing untuk mengganggu proses pemilihan umum AS yang dijadwalkan pada November mendatang.

Penyelidikan yang dilakukan oleh eks penasihat khusus, Robert Mueller, dan komite intelijen Senat menunjukkan hasil yang sama, yakni pihak terafiliasi Pemerintah Rusia mengintervensi pemilihan umum AS 2016. Mueller juga telah memperingatkan soal kemungkinan Rusia kembali turut campur dalam kampanye kali ini.

Sumber: Reuters

Baca juga: Lavrov: Trump salahkan China, bukan Rusia, atas campur tangan Pemilu
Baca juga: Trump tegaskan kepentingan berteman dengan Putin

Pewarta : Suwanti
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar