Polisi tangkap enam remaja pelaku vandalisme "omnibus law"

id aksi vandalisme, vandalisme tulungagung, tolak omnibus law,UU cipta kerja

Polisi tangkap enam remaja pelaku vandalisme "omnibus law"

Waka Polres Tulungagung Kompol Yoghy Hadisetiawan menunjukkan foto bukti vandalisme yang dilakukan enam remaja bawah umur di Tulungagung, Minggu (11/10) (ANTARA/Destyan Handri Sujarwoko)

Tulungagung, Jatim (ANTARA) - Aparat Kepolisian Resort Tulungagung, Jawa Timur, menangkap enam remaja pelaku vandalisme yang mengangkat isu penolakan Undang-undang Cipta Kerja atau Omnibus Law di wilayah tersebut.

Wakapolres Tulungagung Kompol Yoghi Hadisetiawan, di Tulungagung, Minggu mengatakan, keenam remaja yang empat di antaranya masih di bawah umur, ditangkap dalam sebuah operasi cipta kondisi keamanan dalam skala besar mengantisipasi aksi massa berujung kerusuhan di sejumlah daerah dan ibukota di Indonesia.

Baca juga: Kemarin, 5.918 orang demo rusuh ditangkap hingga KKB Intan Jaya

"Para pelaku ini kami tangkap saat akan melakukan aksi corat-coret tembok di sebelah barat simpang empat rumah sakit lama," kata Yoghi sambil menunjukkan sejumlah barang bukti berupa cat semprot, mal tulisan, spidol dan sejumlah peralatan lain.

Kata Wakapolres, mereka beraksi secara bergerombol. Tak hanya menahan enam orang, polisi masih melakukan pengejaran terhadap enam remaja lain yang berhasil kabur.

Para remaja yang rata-rata masih belia dan usia sekolah menengah ini disebut melakukan aksi vandalisme dengan menggunakan simbol (kelompok) "anarko".

Satu jaringan atau kelompok yang dikenal kerap melakukan aksi vandalisme dan keonaran di sejumlah kota besar, dengan mengusung isu antikemapanan.
 
Wakapolres Tulungagung Kompol Yoghy Hadisetiawan menunjukkan foto bukti vandalisme yang dilakukan enam remaja bawah umur di Tulungagung, Minggu (11/10) (ANTARA/Destyan Handri Sujarwoko)


"Tapi sebenarnya para pelaku ini tidak terkait langsung dengan kelompok (anarko) ini. Mereka juga bukan pengurus, tidak memiliki kartu anggota bahkan tidak mengenal apa itu anarko. Hanya dalam aksinya mereka kerap memakai simbol anarko," katanya.

Saat ini, keenam remaja itu masih menjalani pemeriksaan aparat kepolisian. Tidak ada yang ditahan, juga belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka.

Karena rata-rata pelaku masih belia, orang tua dan guru masing-masing remaja dihadirkan untuk dilibatkan dalam upaya pembinaan.

"Sebenarnya keenam remaja ini tidak semata mengangkaT isu omnibus law sebagai gerakan corat-coretnya. Kalaupun ada, mungkin iseng dan mengikuti tren isu yang sedang berkembang belakangan," katanya.

Baca juga: Polri tangkap 5.918 orang dalam demo rusuh tolak UU Cipta Kerja
Baca juga: RS Polri rawat 30 aparat terluka dalam aksi massa


 

Pewarta : Destyan H. Sujarwoko
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar