Akademisi: Pembangunan berkelanjutan kunci menuju Indonesia sejahtera

id pembangunan berkelanjutan,pembangunan,asep sofyan

Akademisi: Pembangunan berkelanjutan kunci menuju Indonesia sejahtera

Akademisi dari Pusat Studi Lingkungan Hidup Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr Asep Sofyan ST MT dalam webinar di Jakarta, Selasa (13/10). (ANTARA/Indriani)

Jakarta (ANTARA) - Akademisi dari Pusat Studi Lingkungan Hidup Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr Asep Sofyan ST MT mengatakan pembangunan berkelanjutan merupakan kunci menuju Indonesia yang sejahtera pada 2045.

"Jumlah penduduk Indonesia pada 2045 diperkirakan mencapai 319 juta orang, sehingga perlu direncanakan penempatannya di Indonesia. Dengan demikian, pembangunan di Indonesia bisa merata," ujar Sofyan dalam webinar "Bumi dan Manusia : Sejahtera Jika Berencana Bersama" di Jakarta, Selasa.

Dia menambahkan dokumen Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) menjadi dokumen pengarah dalam alokasi sumber daya alam daerah berdasarkan daya dukung, daya tampung dan pembangunan berkelanjutan.

Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung kehidupan manusia, makhluk hidup lainnya, dan keseimbangan antarkeduanya.

Baca juga: Pembangunan berkelanjutan untuk bangkit dari wabah

Sementara daya tampung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi maupun komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya.

"Dokumen RPPLH ini harus terintegrasi dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) di setiap daerah," jelas dia.

Selanjutnya, kajian yang harus dilakukan pemerintah daerah sebelum memberikan izin pengelolaan lahan maupun hutan atau Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dapat membantu mengintegrasikan pembangunan berkelanjutan di tingkat nasional maupun daerah.

Dalam kesempatan itu, dia menjelaskan dalam pembangunan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) harus menjadi fondasi. Jika fondasi kokoh, maka akan mempermudah mendukung pencapaian level di atasnya.

"TPB harus kokoh, harus bagus. Berbeda dengan pada masa orde lama pada 1960-an yang fokus pada ekonomi. Tapi sekarang, fokus utama harus pada lingkungan dulu karena penduduk banyak, daya dukung dan daya tampung terancam, sehingga kita perlu mengubah paradigma pembangunan," terang dia.

Baca juga: Menteri: Pengarusutamaan biodiversitas untuk pembangunan berkelanjutan
Baca juga: Pemerintah harap transformasi digital dukung pembangunan berkelanjutan

Pewarta : Indriani
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar