Diaspora Indonesia di Inggris kampanyekan diplomasi sains

id London

Diaspora Indonesia di Inggris kampanyekan diplomasi sains

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dan Menteri BUMN Erick Thohir serta Sekjen Kemenkes mengadakan pertemuan dengan Koordinator UK-Indonesia Consortium for Interdisciplinary Sciences (UKICIS), DR. Bagus Muljadi, Kandidat Ph.D pada Imperial College London, Dr. Eric Daniel Tenda dan Indra Rudiansyah, peneliti vaksin Covid-19 dari Universitas Oxford mewakili diaspora ilmuwan di Inggris (HO-KBRI London)

London (ANTARA) - Diaspora Indonesia yang ada di Inggris menyampaikan gagasan pentingnya mengembangkan science diplomacy atau diplomasi sains karena banyaknya hasil riset dan inovasi para ilmuwan yang membawa dampak bagi masyarakat dan juga dapat menjawab tantangan bangsa ke depan.

Hal itu terungkap dalam pertemuan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dan Menteri BUMN Erick Thohir serta Sekjen Kemenkes dengan Koordinator UK-Indonesia Consortium for Interdisciplinary Sciences (UKICIS), DR. Bagus Muljadi, Kandidat Ph.D pada Imperial College London, Dr. Eric Daniel Tenda dan Indra Rudiansyah, peneliti vaksin Covid-19 dari Universitas Oxford mewakili diaspora ilmuwan di Inggris

Counsellor Pensosbud KBRI London, Hartyo Harkomoyo kepada Antara London mengatakan pertemuan yang diadakan di KBRI London, Selasa sore waktu Inggris (13/10) bertujuan untuk membahas kontribusi diaspora baik dalam upaya penanganan Covid-19 maupun menjawab tantangan bangsa ke depan.

Dalam diplomasi itu ilmuwan diharapkan dapat memberikan rekomendasi sebagai materi bagi para pengambil kebijakan mengenai berbagai aspek inovasi dan teknologi yang dapat memperkaya upaya diplomasi.

Koordinator UKICIS, DR. Bagus Muljadi  usai pertemuan mengatakan, dalam pertemuan diaspora Indonesia menyampaikan gagasan mengenai pentingnya mengembangkan diplomasi sains.

Dalam pertemuan dengan Menlu Retno, Diaspora Indonesia menyampaikan beberapa hal diantaranya terkait potensi kerjasama teknologi seperti Covid-19 dan juga hal lain yaitu peran diaspora membawa teknologi dari Inggris yang dapat di aplikasikan di Indonesia.

“Indonesia tidak saja dikenal dengan tari-tarian yang indah dan makanan enak tapi juga gudang ilmu pengetahuan baru,” ujar Bagus Muljadi yang juga dosen di Universitas Nottingham. 

Sementara itu Dr. Eric Daniel Tenda mengatakan dalam pertemuan itu ada tiga hal yang disampaikan, yaitu sebagai mahasiswa Indonesia mendapat beasiswa dari Pemerintah, ada hasil positif diharapkan dapat membantu pemerintah dalam mengatasi berbagai hal tidak saja masalah Covid-19.

“Saya berharap akan banyak lagi pelajar Indonesia yang mendapat kesempatan untuk menimba ilmu di Inggris,” ujar Dr Eric Daniel Tenda, Senior Clinical Research Fellow di Chelsea dan Westminster Hospital.

Ia mendorong pemerintah untuk memberikan beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi. Selain perkembangan di bidang ilmu kedokteran yang tidak terbatas pada Covid -19, juga bisa menjadi alternatif solusi yang ditawarkan untuk membantu pemerintah dalam berbagai hal.

Hasil riset dan inovasi dari para ilmuwan diharapkan dapat membawa dampak yang nyata bagi masyarakat dan dalam menjawab tantangan-tantangan bangsa ke depan.

Diplomasi ilmuwan diharapkan dapat memberikan rekomendasi sebagai materi bagi para pengambil kebijakan kebijakan mengenai berbagai aspek inovasi dan teknologi yang dapat memperkaya upaya diplomasi.

Para diaspora juga menyampaikan kesungguhan untuk terus mendukung upaya pemerintah dalam menghadapi wabah Covid-19, pengembangan tekonologi selain Covid-19 maupun upaya memajukan kerja sama RI-Inggris di berbagai bidang

Di Inggris terdapat sekitar 10.000 ribu diaspora dimana lebih dari separuhnya adalah para ilmuwan, baik yang berprofesi sebagai mahasiswa, tenaga pengajar maupun profesional. KBRI London memandang aspek penting diplomasi bersinergi dengan para ilmuwan.

KBRI London dan diaspora akademisi Indonesia, Agustus lalu membentuk UK-Indonesia Consortium for Interdisciplinary Sciences (UKICIS). Anggota pendiri UKICIS terdiri atas perwakilan universitas terkemuka baik dari Indonesia maupun Inggris, yaitu University of Nottingham, Coventry University, Warwick University, IPB, ITB, dan UGM.

Melalui UKICIS, universitas yang berpartisipasi berkomitmen untuk memberdayakan kolaborasi dalam menjawab tantangan global yang muncul. Dalam 25 tahun ke depan, konsorsium bertujuan menjadi mercusuar bagi pertukaran pengetahuan dan transfer teknologi antara kedua negara.

Baca juga: LIPI dorong diplomasi sains merespons krisis kesehatan global
Baca juga: LIPI menyebut diplomasi sains belum tersentuh kebijakan luar negeri
Baca juga: KBRI bersama universitas di Indonesia dan Inggris luncurkan UKICIS


Pewarta : Zeynita Gibbons
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar