"Gastrodiplomacy" Indonesia juga sasar kawasan Afrika Sub-Sahara

id gastrodiplomacy,diplomasi kuliner,afrika,sub-sahara,kemlu RI,kemenko marves

Dokumentasi--Koki ternama Indonesia William Wongso (tengah) bersama Duta Besar RI untuk Afrika Selatan Salman Al Farisi (bawah kanan) mempromosikan kuliner Indonesia di Pretoria, Afrika Selatan. (KBRI Pretoria)

Jakarta (ANTARA) - Indonesia menjalankan diplomasi kuliner, atau gastrodiplomacy, dengan sasaran bukan hanya pasar tradisional tetapi juga pasar nontradisional, termasuk kawasan Afrika Sub-Sahara--yang berpotensi tinggi namun belum banyak digarap.

"Berdasarkan data yang kami dapat, di Afrika Sub-Sahara baru ada satu restoran Indonesia, yaitu di Rwanda, dan merupakan swadaya dari warga negara Indonesia di sana," kata Emmanuel Ginting, Kepala Sub-Direktorat Afrika III Kementerian Luar Negeri RI, dalam sebuah webinar, Kamis.

Dalam pemaparannya, Emmanuel menyebut bahwa sejauh ini Perwakilan RI, yakni 10 KBRI dan 1 KJRI, di kawasan tersebut telah melaksanakan diplomasi kuliner berskala kecil dan menengah, sebagai bagian dari diplomasi sosial budaya.

"Baru-baru ini ada peresmian Rumah Indonesia di Mauritius, yang memajang produk-produk Indonesia, dan rencananya ke depan akan dibuka juga restoran di lokasi tersebut," ujar Emmanuel.

Baca juga: KBRI promosikan kuliner Indonesia di Bangladesh
Baca juga: Sajian kuliner Indonesia jadi sarana promosi di Portugal


Sejumlah produk makanan ekspor Indonesia, menurut Emmanuel, sudah banyak dikenal dan digemari di negara-negara Afrika Sub-Sahara, misalnya mi instan Indomie di Nigeria, Ghana, dan Kenya, juga Mie Sedaap yang terkenal di Madagaskar.

Sejalan dengan diplomasi kuliner ini, Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi juga mempunyai rencana aksi serupa dengan program bertajuk Indonesia Spice Up the World yang dimulai dari Afrika dan Australia.

Asisten Deputi Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif di kementerian tersebut, Sartin Hia, dalam webinar yang sama, menjelaskan bahwa Afrika adalah kawasan dengan populasi penduduk terbesar, berarti potensi pasar yang besar pula.

"Kemudian ada karakter masakan penduduk Afrika berupa braai (daging bakar berbumbu a la Afrika) sehingga lebih mudah mengaplikasikan aneka varian bumbu masakan Indonesia," ujar Sartin.

Bidang kuliner sendiri dianggap sebagai jalan yang cocok mengingat subsektor kuliner merupakan penyumbang terbesar bagi PDB nasional Indonesia di antara subsektor lainnya di bawah sektor ekonomi kreatif, dengan persentase mencapai 41,47 persen.

Baca juga: Bisnis masakan Indonesia berpeluang masuk pasar Afrika
Baca juga: Juru masak Indonesia meriahkan festival kuliner di Turki

Pewarta : Suwanti
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar