Peru tolak kontrak pembelian vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca

id uji klinis vaksin COVID-19,Peru AstraZeneca,vaksin COVID-19 AstraZeneca

Botol uji bertanda Vaksin terlihat di depan logo AstraZeneca dalam gambar ini, yang difoto pada 9 September, 2020. ANTARA/REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/tm

Lima (ANTARA) - Pemerintah Peru pada Kamis (22/10) menolak menandatangani perjanjian pembelian calon vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca PLC karena pihak perusahaan tidak memberi data yang cukup mengenai hasil uji klinis, dan jumlah dosis yang ditawarkan terlalu sedikit.

Perdana Menteri Peru Walter Martos saat jumpa pers mengatakan pemerintah telah meminta data hasil riset dan uji klinis calon vaksin ke AstraZeneca, tetapi perusahaan belum mengirim informasi tersebut.

"Perusahaan-perusahaan lain dapat memenuhi permintaan kami, tetapi AstraZeneca tidak," kata Martos.

"Mereka menawari kami jumlah vaksin yang sangat sedikit apabila dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan lain yang menawari kami jumlah vaksin yang banyak dengan biaya lebih rendah," kata dia.
 
Dalam kesempatan lain, otoritas di Brazil pada Rabu (21/10) mengatakan seorang relawan meninggal saat mengikuti uji klinis calon vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca dan University of Oxford. Namun, pemerintah menyebut uji klinis vaksin masih akan terus berlanjut.

Martos mengatakan Peru masih mungkin menghadapi gelombang kedua pandemi COVID-19, meskipun kasus baru saat ini cukup rendah. AstraZeneca berencana mengadakan uji coba vaksin di Peru.

Tingkat penularan dan kematian akibat COVID-19 di Peru telah menurun sejak September 2020. Total kasus positif COVID-19 di Peru per Selasa (20/10) mencapai 876.885 jiwa, yang 33.937 di antaranya meninggal dunia.

Sumber: Reuters

Baca juga: Peserta uji vaksin COVID-19 AstraZeneca di Brazil meninggal

Baca juga: AstraZeneca lanjutkan uji coba vaksin di Jepang

Baca juga: Italia mungkin mulai suntikkan vaksin COVID-19 akhir November


 

RI amankan 100 juta dosis vaksin Inggris AstraZeneca


Pewarta : Genta Tenri Mawangi
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar