Empat polisi dan satu wartawan terluka dalam kericuhan di Sorong

id Papua Barat,kericuhan di Sorong,unjuk rasa sorong

Empat polisi dan satu wartawan terluka dalam kericuhan di Sorong

Posisi saat memukul mundur massa aksi demo Papua Merdeka di kota Sorong, Jumat (27/11/2020). ANTARA/Ernes Kakisina/am.

Sorong (ANTARA) - Empat anggota polisi dan satu wartawan mengalami luka dalam kericuhan saat unjuk rasa menyuarakan aspirasi Papua Merdeka di Kota Sorong, Papua Barat, Jumat.

Kericuhan berawal saat ratusan massa yang melakukan unjuk rasa dengan mengibarkan bendera bintang kejora dibubarkan oleh aparat kepolisian.

Massa yang tidak terima dibubarkan langsung melempar aparat kepolisian dengan batu dan botol sehingga massa dipukul mundur dengan tembakan gas air mata.

Baca juga: Dua polisi terluka saat bubarkan demo di Sorong yang berakhir ricuh

Massa yang dipukul mundur semakin brutal dan terus melempar aparat kepolisian dengan batu dan botol. Bahkan massa juga menembakkan kembang api ke arah aparat kepolisian.

Dalam aksi tersebut empat anggota polisi dan satu orang wartawan Antara Foto mengalami luka akibat terkena lemparan batu sehingga dilarikan ke rumah sakit TNI Angkatan Laut guna mendapat perawatan.

Kapolres Sorong Kota AKBP Ary Nyoto Setiawan saat dikonfirmasi membenarkan bahwa suatu anggota Polres, tiga anggota Brimob, dan satu wartawan luka dalam kericuhan tersebut.

Dia mengatakan, kericuhan berawal saat sekelompok massa yang menamakan dirinya West Papua Nugini yang hendak melakukan long mars dari Yohan Klademak menuju kantor Wali Kota untuk melakukan aksi peringatan kemerdekaan.

Namun kami mengimbau agar membubarkan diri sehingga terjadi gesekan dan pelemparan batu hingga melukai anggota kepolisian dan juga wartawan.

"Kami sudah mengamankan beberapa orang terkait aksi tersebut. Situasi sudah dikendalikan," tambah dia.

Baca juga: Warga dobrak pintu Dinas Koperasi Sorong serahkan berkas BLT UMKM

Baca juga: Polisi diminta usut perusakan kantor DPRD kota Sorong

Pewarta : Ernes Broning Kakisina
Editor: Nurul Hayat
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar