Pengamat: Orang tua-guru harus kerja sama dalam penguatan karakter

id covid,mataram,online

Pengamat: Orang tua-guru harus kerja sama dalam penguatan karakter

Seorang siswa SMPN 6 Mataram sedang mengikuti pembelajaran jarak jauh melalui sistem dalam jaringan atau daring di Mataram, Nusa Tenggara Barat. (ANTARA/Nirkomala)

Mataram (ANTARA) - Pengamat Pendidikan dari Universitas Mataram Prof H Mahyuni mengatakan orang tua dan guru harus bekerja sama dalam memberikan penguatan karakter anak selama pelaksanaan belajar melalui sistem dalam jaringan atau daring selama pandemi COVID-19.

"Institusi yang membentuk karakter utama anak adalah keluarga, dan guru menjadi pembentuk tahap berikutnya. Selanjutnya, masyarakat menjadi tempat verifikasi apakah karakter yang didapat di dua tempat itu berlaku di masyarakat atau tidak," katanya kepada wartawan di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Jumat.

Pernyataan itu disampaikan menanggapi upaya daerah bersama guru dan pendidik untuk berinovasi agar penguatan karakter tetap berjalan dengan tantangan belajar melalui daring di tengah pandemi COVID-19.

Baca juga: Praktisi sebut perlu ada pembatasan penggunaan gawai bagi siswa

Dia mengakui, kebijakan penerapan pendidikan jarak jauh (PJJ) melalui daring menjadi tantangan bagi guru karena kesulitan untuk melakukan pemantauan langsung.

"Apalagi fungsi guru saat ini diambil oleh orang tua. Karena itu, kerja sama antara guru dan orang tua sangat penting," katanya.

Akan tetapi, lanjut Mahyuni, orang tua juga kadang bingung dalam menyampaikan pembelajaran karakter sehingga untuk saat ini tidak bisa berbicara tentang kualitas.

"Untuk menjadikan orang jujur, ikhlas, terbuka dan solider menjadi hal yang tidak ringan," katanya.

Baca juga: Pembangunan karakter kunci lahirnya generasi emas berakhlak

Terkait dengan itu melalui PJJ, menurut dia, guru diharapkan mampu berinovasi dalam memberikan jargon serta ekspresi yang dapat disampaikan dan diterima para siswa kendati hal itu sulit diteladani langsung seperti ketika menyampaikan pelajaran secara tatap muka.

"Saat belajar tatap muka, ada tradisi setiap mulai belajar anak biasanya mengucapkan salam kepada guru, dan berdoa bersama tapi kini terkesan menghilang. Untuk itu, kita berharap mulai sekarang saat belajar daring hal ini juga bisa tetap dilakukan sebagai bagian penguatan karakter," katanya.

Mahyuni mengakui di sisi lain model belajar daring yang diterapkan saat ini kurang maksimal sebab banyak terhalang sekat-sekat yang harus dihindari.

"Jadi tetap saja komunikasi secara langsung akan jauh lebih efektif. Sementara, untuk meminimalisir tantangan belajar daring, orang tua perlu lebih aktif kerja sama dengan guru," katanya.

Baca juga: Pengamat : Belajar daring bukan kendala pendidikan karakter
Baca juga: Pembelajaran saat pandemi di Papua mesti kedepankan penguatan karakter

 

Pewarta : Nirkomala
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar