BGK: Komitmen ESG 17 BUMN meningkat

id BGK,Karbon,BUMN,Laporan berkelanjutan

BGK: Komitmen ESG 17 BUMN meningkat

Dokumentasi - Deretan mesin ATM. Menurut Yayasan Bumi Global Karbon (BGK) sebanyak 134 bank nasional memberikan kontribusi signifikan turunnya emisi karbon. (ANTARA/HO)

Jakarta (ANTARA) - Bumi Global Karbon (BGK) mengungkapkan bahwa komitmen pemerintahan, sosial dan lingkungan (Environmental, Social, Governance/ESG) pada laporan keberlanjutan 17 sampel dari 115 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menunjukkan rata-rata mengalami peningkatan.

"Terjadi kenaikan atas pengungkapan ESG dari laporan keberlanjutan di BUMN. Detilnya, kenaikan untuk BUMN non perbankan sebesar 5,7 persen dan BUMN perbankan sebesar satu persen," kata Founder BGK Ahmad Deni Daruri dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Ia menjelaskan, peninjauan BGK mengacu kepada pedoman 33 Faktor Materialitas ESG Bumi Global Karbon.

"Dalam peninjauan pengungkapan ESG ini, kami menganalisis laporan keberlanjutan untuk tahun finansial yang berakhir di 31 Desember 2018 dan 31 Desember 2019," katanya.

Laporan-laporan itu, kata Deni, diterbitkan melalui 17 dari 115 BUMN yang diambil sampel berdasarkan publikasi laporan keberlanjutan di laman resmi masing-masing BUMN dengan periode penerbitan laporan keberlanjutan 2019, yaitu Januari sampai Oktober 2020.

Baca juga: Bumi Global Karbon berharap pemerintah segera susun SR Desa
Baca juga: Lima perspektif KPI direksi BUMN yang diatur Permen baru Erick Thohir
Founder Bumi Global Karbon (BGK) Ahmad Deni Daruri. (ANTARA/HO)
Untuk setiap BUMN, kata dia, peninjauan pengungkapan ESG berfokus pada apakah BUMN sudah menerbitkan Laporan Keberlanjutan, kapan Laporan Keberlanjutan diterbitkan dan apakah laporan itu melalui proses jaminan pihak ketiga independen (AA1000 atau ISAE3000).

Selain itu, pengungkapan dari BUMN berdasarkan penilaian 33 Faktor Materialitas ESG dan bagaimana BUMN mempersiapkan laporan keberlanjutan serta seberapa rinci informasi yang sudah diungkapkan dalam laporan.

"Dalam menilai kelima poin di atas, kami menggunakan penilaian secara kuantitatif," katanya.

Terkait ketepatan waktu juga terjadi peningkatan ketepatan waktu pelaporan laporan keberlanjutan dari 2018 ke 2019.

Hal ini juga didukung dari tidak adanya BUMN yang menerbitkan Laporan Keberlanjutan 2019 lebih dari tujuh bulan dari tutup tahun fiskal. "Tren menunjukkan bahwa BUMN mulai memperhatikan dan mengungkapkan isu terkait lingkungan," katanya.

Pewarta : Edy Sujatmiko
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar