Dokter pribadi: Biaya perawatan Pinangki per tahun Rp100 juta

id pinangki sirna malasari,suap,kejaksaan agung,dokter kecantikan,aa

Dokter pribadi: Biaya perawatan Pinangki per tahun Rp100 juta

Terdakwa kasus dugaan suap dan gratifikasi pengurusan fatwa Mahkamah Agung (MA) Djoko Tjandra, Pinangki Sirna Malasari menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (30/11/2020). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww.

Jakarta (ANTARA) - Dokter Olivia Santoso selaku dokter "home care" Jaksa Pinangki Sirna Malasari mengatakan biaya perawatan pasiennya tersebut sejak 2013 hingga 2020 dapat mencapai sekitar Rp100 juta per tahun.

"Dalam 1 tahun bisa Rp100 juta lebih, dari dulu seperti itu," kata Olivia di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Rabu.

Olivia menjadi saksi untuk terdakwa mantan Kepala Sub Bagian Pemantauan dan Evaluasi II Biro Perencanaan Jaksa Agung Muda Pembinaan Kejaksaan Agung Pinangki Sirna Malasari.

"Saya kenal sejak 2013 saat saya bekerja di sebuah klinik, saat itu Bu Pinangki datang ke klinik untuk berobat karena kelelahan bekerja dan suntik vitamin C," tambah Olivia.

Menurut Olivia, Pinangki memang menjadi pasien tetapnya sejak 2013 hingga 2020 untuk suntik multivitamin.

"Dokter 'homecare' itu jadi saya datang ke rumah ibu, waktu di klinik ibu yang datang ke klinik, kalau 'homecare' saya datang ke lokasi bisa kantor atau rumah," ungkap Olivia.

Menurut Olivia, biaya sekali konsultasi tergantung keluhan dan pengobatan yang diberikan.

Baca juga: "Sales" sebut Pinangki beli mobil BMW karena menang kasus

"Untuk obat-obatan tarifnya sekitar Rp800 ribu sampai Rp1 juta sedangkan untuk jasa konsultasi kalau 'weekdays' siang hari Rp300 ribu per kedatangan, untuk malam hari atau 'weekend' harganya Rp500 ribu," tambah Olivia.

Selain multivitamin, Olivia juga mengaku pernah memberikan suntikan botoks kepada Pinangki.

"Pernah suntik botoks kolagen, itu untuk kerutan, untuk kesehatan kulit misalnya bila ada yang tidak simetris," ungkap Olivia.

Selain kecantikan, Pinangki juga membayar untuk pembelian "rapid test" COVID-19.

"Suntik botoks biayanya Rp7 juta, untuk 'rapid test' Rp9-19 juta bener? Apakah ini semua dibayar terdakwa?" tanya jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Agung KMS Roni.

"Iya," jawab Olivia.

"Dari Agustus 2019 sampai Juni 2020 pembayaran totalnya Rp170-an juta , apakah sebagai dokter tidak bertanya dari mana penghasilan dari mana penghasilannya sampai pengeluaran seratusan juta?" tanya jaksa Roni.

Baca juga: Pesan jaksa Pinangki ke anaknya: "Mommy in jail, please pray for me"

"Karena saya sudah kenal sejak 2013 dan 'care' sama kesehatan baik diri sendiri dan teman-temannya," jawab Olivia.

Dalam surat dakwaan disebutkan Pinangki telah menerima uang sebesar 500 ribu dolar AS (sekitar Rp7,4 miliar) dari terpidana "cessie" Bank Bali Djoko Tjandra.

Dari uang tersebut antara lain digunakan untuk pembayaran dokter "home care" atas nama dr Olivia Santoso yang dilakukan mulai 18 Oktober 2019 - 20 Juli 2020 dengan jenis perawatan yang diberikan adalah infus vitamin; obat anak; suntik dan vaksin flu untuk ibunya Pinangki dan pembantu; pembelian rapid tes biosensor buatan Korea; infus obat mual, muntah dan lainnya dengan total pembayaran Rp176.880.000.

Dalam perkara ini jaksa Pinangki didakwa dengan tiga dakwaan yaitu pertama dakwaan penerimaan suap sebesar 500 ribu dolar AS (sekitar Rp7,4 miliar) dari terpidana kasus cessie Bank Bali Joko Soegiarto Tjandra.

Kedua, dakwaan pencucian uang yang berasal dari penerimaan suap sebesar 444.900 dolar atau sekitar Rp 6.219.380.900 sebagai uang pemberian Joko Tjandra untuk pengurusan fatwa ke MA.

Ketiga, Pinangki didakwa melakukan pemufakatan jahat bersama dengan Andi Irfan Jaya dan Joko Tjandra untuk menyuap pejabat di Kejagung dan MA senilai 10 juta dolar AS.

Baca juga: Pinangki biasa kirim hingga Rp500 juta untuk kebutuhan rumah tangga

Pewarta : Desca Lidya Natalia
Editor: Joko Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar