Kolaborasi kunci pustakawan berdayakan masyarakat marjinal

id Kolaborasi, perpustakaan berbasis inklusi sosial

Kolaborasi kunci pustakawan berdayakan masyarakat marjinal

Dokumentasi. Sejumlah pengunjung membaca buku di Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc/aa.

Jakarta (ANTARA) - Kolaborasi menjadi kata kunci bagi para kepala daerah, legislator, dan pustakawan memfasilitasi masyarakat marjinal untuk mau berubah dan belajar.

"Pustakawan bisa diberdayakan untuk mengedukasi masyarakat karena tidak memiliki keterikatan dengan jam belajar sehingga lebih leluasa turun ke lapangan. Edukasi bisa diberikan oleh pustakawan sesuai dengan kebutuhan masyarakat," ujar Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin.

Melalui program transformasi layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial, pustakawan diminta untuk terlibat mengedukasi masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidupnya.

Untuk bisa membuka ruang, lanjut Syarif Bando, pustakawan bisa memfasilitasi sekelompok masyarakat yang termarjinalkan dengan bersinergi pada semua komunitas terutama Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) . IPI atau pustakawan tidak terikat dengan jam belajar dan harus memberikan silabus setiap waktu untuk memastikan tugasnya.

"Tapi, dia bisa lebih leluasa di lapangan bersama dengan komunitas masyarakat,” kata dia.

Syarif Bando menjelaskan melalui literasi, sejumlah orang di Indonesia sudah berhasil mengubah hidupnya lebih sejahtera setelah menerapkan ilmu dari buku yang dibaca di perpustakaan.

“Ada rekan kami namanya Wahid di Pamekasan, Madura. Dia menjadi tukang parkir selama kurang lebih 10 tahun. Saudara Wahid dalam masa pandemi ini menjadi pengusaha ayam bangkok dan sudah mengajari istrinya jadi pengusaha katering. Kemudian ada yang di Mojokerto, ada di Bandung Barat,” jelasnya mengisahkan.

Sementara itu, Bupati Enrekang Muslimin, menyatakan saat ini fungsi perpustakaan tidak lagi seperti dulu yang hanya sekedar membaca.

“Kalau tidak ada literasi, tidak ada membaca, susah kita akan sejahtera. Sangat kita harapkan banyak belajar, membaca apa yang terjadi di sekeliling kita semuanya, mengetahui persoalan-persoalan yang muncul kemudian,” kata Muslimin.

Seluruh desa dan kelurahan yang ada di Kabupaten Enrekang saat ini sudah memiliki perpustakaan. Bupati Muslimin mengajak para pustakawan untuk mengembangkan perpustakaan tersebut. Dia berharap melalui dukungan ini, sekira 200.000 warga Kabupaten Erenkang bisa meningkatkan kesejahteraannya.

“Dari 112 desa dan 17 Kelurahan di Kabupaten Enrekang, semuanya sudah mendirikan perpustakaan kelurahan dan desa. Kepada teman-teman agar bantu saya untuk memfasilitasi di dalamnya. Mungkin ada bangunannya tetapi tidak punya buku atau mungkin ada tetapi tidak tahu cara bagaimana mengoperasikan,” kata Muslimin.  

Baca juga: Pustakawan dituntut bisa menjadi research librarian
Baca juga: Perpusnas dorong kapasitas dan jumlah pustakawan profesional meningkat

 

Pewarta : Indriani
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar