Kemenperin rancang SNI wajib produk refraktori

id SNI Wajib,kemenperin,industri refraktori

Kemenperin rancang SNI wajib produk refraktori

Direktur Industri Semen, Keramik dan Pengolahan Bahan Galian Non Logam Kementerian Perindustrian, Adie Rochmanto Pandiangan (kanan) berfoto bersama dengan Ketua Umum Asosiasi Industri Refraktori dan Isolasi Indonesia (ASRINDO) Basuki (kiri) seusai rapat konsesus tentang Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) untuk produk refraktori di Bandung, beberapa waktu lalu. ANTARA/HO-Biro Humas Kemenperin/am.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian tengah menyusun aturan standar nasional Indonesia (SNI) wajib bagi produk refraktori, yang diharapkan dapat diimplementasikan pada 2021, guna menjaga daya saing industri dalam negeri dan keamanan konsumen domestik.

"Mengingat produk-produk refraktori digunakan di area-area kritis di industri-industri proses vital nasional yang menyangkut keselamatan alat produksi, keselamatan manusia dan lingkungan sehingga layak menjadi SNI wajib," kata Direktur Industri Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Non Logam Kemenperin Adie Rochmanto Pandiangan lewat keterangan resmi di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Kemenperin pacu subtitusi impor produk refraktori

Produk refraktori adalah batuan yang hasil produknya digunakan sebagai pelapis untuk tungku, klin, insinerator, dan reaktor tahan api pada industri semen, keramik, kaca, dan pengecoran logam.

Adie menjelaskan, saat ini masih dilaksanakan rapat konsensus pembahasan Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) untuk produk refraktori raming mix jenis samot dan jenis kadar alumina tinggi yang merupakan revisi SNI-15-06000-1989.

Sedangkan, refraktori bahan tahan api kastabel jenis alumina dan alumina silika sebagai revisi SNI-15-0809-2001 telah selesai dibahas dalam rapat konsensus sebelumnya.

"Rapat konsensus produk refraktori ini dilaksanakan oleh Komite Teknis 81-04 melalui Surat Keputusan Kepala Badan Standardisasi Nasional Nomor 323 Tahun 2020," ungkapnya.

Rapat tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, antara lain pemerintah, para pakar dari Balai Besar Keramik Kemenperin dan perguruan tinggi, konsumen pengguna refraktori, serta pelaku usaha atau produsen refraktori.

Lebih lanjut, rapat konsensus ini dilaksanakan secara daring maupun luring dan didukung sepenuhnya oleh para pelaku usaha refraktori, di antaranya PT Refratech Mandalaperkasa (RMP) yang merupakan perusahaan lokal yang bergerak dalam bidang manufaktur semen tahan api dan juga layanan jasa rekayasa serta aplikasi konstruksi refraktori termasuk pracetak, yang berdiri sejak 1992 di Citeureup, Bogor.

Selain itu, PT Benteng Api Technic atau BAT Refractories, yang merupakan produsen batu bata tahan api, semen tahan api dan material refraktori dengan produk utamanya meliputi fire clay bricks, high alumina brick, refractory mortar, castable refractory, gunning castable dan lain-lain. Perusahaan ini berdiri sejak 1997di Surabaya.

"Berikutnya, juga ada PT Benteng Api Refractorindo, PT Jaya Refractorindo Utama, PT Refractorindo Graha Dinamika, PT Dinamika Rekayasa Panas, dan PT Indonesia Chemical Alumina," sebut Adie.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Industri Refraktori dan Isolasi Indonesia (Asrindo) Basuki mengatakan SNI sebagai instrumen nontarif atau non-tariff measures diharapkan dapat memberikan perlindungan dan pengamanan terhadap investasi dan juga pelaku usaha refraktori dalam negeri.

"Negara-negara di dunia banyak yang telah memanfaatkan standar, regulasi teknis dan prosedur penilaian kesesuaian sebagai alat mengamankan industri dalam negeri dari serangan produk-produk impor," paparnya.

Kemudian, menurut Basuki, penerapan SNI juga akan membantu dalam penyelarasan spesifikasi teknis produk dan jasa sehingga industri lebih efisien dan mampu meningkatkan daya saingnya.

"Kesesuaian dengan standar membantu meyakinkan konsumen bahwa produk tersebut aman, efisien dan baik untuk lingkungan," imbuhnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Muhammad Khayam menyampaikan salah satu subsektor industri bahan galian nonlogam yang sedang dipacu tumbuh, yakni industri refraktori.

Saat ini, kebutuhan nasional terhadap produk refraktori mencapai 150.000-200.000 ton per tahun. Sementara itu, industri dalam negeri memasok kebutuhan tersebut sebesar 50.000 ton per tahun.

"Industri refraktori merupakan industri padat modal yang membutuhkan bahan baku dari sumber daya alam," ungkap Khayam.

Baca juga: Kemenperin susun proyek strategis kerja sama lanjutan dengan UNIDO
Baca juga: Indeks naik, daya saing manufaktur RI ungguli India dan Vietnam


Pewarta : Sella Panduarsa Gareta
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar