Intervensi vaksinasi upaya keluar dari pandemi COVID-19

id Intervensi vaksinasi, vaksinasi, vaksin sinovac, Sultra, vaksinasi di Sultra

Intervensi vaksinasi upaya keluar dari pandemi COVID-19

Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) Prof Dr Muhammad Zamrun saat mendapatkan suntikan vaksinasi COVID-19 yang disaksikan langsung Gubernur Sultra Ali Mazi di Rumah Sakit Bahteramas Kendari, Kamis (14/1/2021). ANTARA/Harianto

Kendari (ANTARA) - Pandemi Corona Virus Disease 2019 atau COVID-19 sebagai bencana non-alam masih terus membayang-bayangi seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia khususnya di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Sejak diumumkannya kasus konfirmasi pertama pada Maret 2020 dalam rentang waktu satu bulan seluruh provinsi telah melaporkan kasus konfirmasi. Pandemi ini belum berakhir, kasus terus meningkat dalam kurun waktu 11 bulan.

Tim Gugus Tugas COVID-19 Sulawesi Tengggara hingga 14 Januari 2021 mencatat kasus terkonfimasi positif sebanyak 8.639 orang, pasien dinyatakan sembuh 7.305 orang, dan pasien yang dinyatakan meninggal dunia sebanyak 167 orang.

Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak buruk yang terlihat nyata di berbagai sektor, tidak hanya kesehatan, tetapi juga sektor lainnya, seperti sektor sosial ekonomi, pariwisata dan pendidikan, serta ketentraman dan ketertiban masyarakat.

Sementara itu tingkat kerentanan masyarakat semakin meningkat yang disebabkan kurangnya kesadaran terhadap penerapan protokol kesehatan, utamanya disiplin dalam menerapkan 3M, yakni memakai masker, majaga jarak dan mencuci tangan dengan menggunakan sabun di air mengalir.

Oleh karena itu, perlu segera dilakukan intervensi tidak hanya dari sisi penerapan protokol kesehatan, namun juga diperlukan intervensi lain yang efektif untuk memutus mata rantai penularan penyakit, salah satunya melalui vaksinasi COVID-19 sehingga kita bisa keluar dari pandemi ini.

Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Ali Mazi mengatakan bahwa intervensi kesehatan melalui vaksinasi merupakan upaya pemerintah dalam menekan angka kasus COVID-19.

"Perlu segera dilakukan intervensi, tidak hanya dari sisi penerapan protokol kesehatan, namun juga diperlukan intervensi lain yang efektif untuk memutus mata rantai penularan, yaitu melalui upaya vaksinasi," kata Ali Mazi.

Kata dia, tanpa intervensi kesehatan yang cepat dan tepat, diperkirakan sebanyak 2,5 juta kasus COVID-19 akan memerlukan perawatan di rumah sakit di Indonesia dengan angka kematian yang diperkirakan mencapai 250 ribu kematian.

Ia menyampaikan, vaksinasi bertujuan mengurangi penularan, menurunkan angka kesakitan dan kematian, mencapai kekebalan kelompok di masyarakat, dan melindungi masyarakat agar tetap produktif secara sosial dan ekonomi.

"Pelaksanaan pencanangan vaksinasi COVID-19 sebagai wujud Sultra siap melaksanakan dan menyukseskan pelaksanaan vaksinasi," tutur Ali Mazi.

Gubernur meminta agar Satgas COVID-19, dinas kesehatan, dan seluruh pemangku kepentingan, baik di pemerintah provinsi, kabupaten/kota, serta seluruh komponen masyarakat untuk semangat berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan vaksinasi COVID-19.

“Pastikan setiap sasaran mendapatkan vaksinasi COVID-19 lengkap, sesuai dengan yang dianjurkan dengan kualitas pelayanan yang baik," ujarnya.

Gubernur juga menyampaikan terima kasih kepada para penerima vaksin perdana yang secara sukarela mau melakukan vaksinasi dengan harapan menghilangkan keraguan dan kekhawatiran sebagian masyarakat tentang vaksin COVID-19, akibat adanya berita-berita hoaks yang menyesatkan.

"Tak lupa saya berpesan kepada kita semua, tetap patuhi protokol kesehatan dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. Tetap jaga diri, keluarga, dan masyarakat untuk kesehatan, keselamatan, dan kebaikan bersama," ujarnya.

Ali Mazi menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada ketentuan terkait sanksi bagi yang menolak jika disuntikkan vaksin COVID-19. Namun bagi dia penyuntikan vaksin wajib.

"Soal sanksi itu tergantung diri kita, kita mau sehat atau tidak, kalau kita mau sehat ya tentu kita divaksin. Harusnya kalau saya kita wajibkan untuk masyarakat karena tujuan pemerintah, tujuan negara untuk memberikan kesehatan kepada masyarakat agar kita beraktivitasnya tetap lancar," kata Gubernur Sultra Ali Mazi.

Pencanangan vaksinasi

Provinsi Sulawesi Tenggara mulai melaksanakan vaksinasi COVID-19 ditandai dengan pencanangan di Aula Rumah Sakit Bahteramas Kendari yang dihadiri Gubernur, Wakil Gubernur, Forkopimda, Sekretaris Daerah dan sejumlah kepala OPD.

Sebanyak 13 orang relawan penerima vaksin sinovac perdana yang dilaksanakan Pemprov Sultra adalah Rektor Universitas Halu Oleo Prof Dr Muhammad Zamrun menjadi orang pertama yang divaksin

Disusul Asisten Bidang Pemerintahan Pemprov Sultra Basiran, dan perwakilan tenaga kesehatan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sultra dr. Tety Yuniarty, yang kemudian disusul para kepala Organisasi Perangakat Daerah (OPD) tokoh agama dan tokoh masyarakat lingkup Pemprov Sultra.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Sultra Usnia mengatakan pelaksanaan pencanangan vaksinasi COVID-19 di Sultra serentak dengan 34 provinsi se-Indonesia sebagaimana instruksi Menteri Dalam Negeri bertanggal 5 Januari 2021.

"Pelaksanaan di Sultra tersebar di dua daerah, yakni Kota Kendari dan Kabupaten Konawe, yang merupakan daerah penyangga Sultra,” kata Usnia.

Mereka yang menjalani vaksinasi perdana di Sultra sebanyak 33 orang yang berasal dari kalangan pejabat dan tokoh agama, dengan masing-masing rincian 13 orang di Pemprov Sultra, 10 orang di Pemerintah Kota Kendari, dan 10 orang di Pemerintah Kabupaten Konawe.

Total jumlah tenaga kesehatan (termasuk pejabat dan tokoh agama) yang divaksin di Sultra pada periode pertama ini sebanyak 5.950 orang dengan rincian sebanyak 4.150 orang di Kota Kendari dan 1.800 orang di Kabupaten Konawe.

Khusus di jajaran Pemprov Sultra, dari 13 relawan hanya enam orang yang disuntikkan vaksin COVID-19, sementara tujuh lainnya memiliki penyakit bawaan atau komorbid. Kata Usnia, seseorang dapat disuntikkan vaksin COVID-19 jika orang tersebut dalam keadaan sehat.

"Komorbid ini penyakit bawaaan. Rata-rata hipertensi Jadi memang tidak bisa karena syarat dari disuntikkan vaksin itu harus sehat," kata Usnia menjelaskan.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sultra dr La Ode Rabiul Awal menambahkan bahwa seorang calon penerima vaksin tidak akan divaksinasi COVID-19 jika tekanan darahnya tinggi atau kurang stabil.

"Jadi keamanan itu betul-betul diterapkan. Ada kriterianya walaupun pasiennya mau kalau kriterianya tidak terpenuhi bisa saja kita tidak melayani demi keselamatan dari para penerima vaksin," kata Rabiul.

Di tempat berbeda, Wali Kota Kendari Sulkarnain Kadir, merupakan orang pertama yang menerima suntikan vaksin COVID-19 di Ibu Kota Sultra, saat peluncuran vaksinasi COVID-19 di RSUD Kendari, Kamis.

Selain Wali Kota Kendari, ada sembilan relawan lainnya yang mendapat suntikan vaksin pada peluncuran tahap pertama vaksinasi COVID-19.

"Kenapa saya siap menjadi orang pertama yang divaksin di kota ini, karena saya melihat sudah ada dua lembaga kredibel yakni fatwa MUI yang menyatakan bahwa vaksin itu halal dan BPOM juga sudah menyatakan bahwa vaksin tersebut memenuhi ketentuan kesehatan," kata Sulkarnain.

Alasan lain wali kota mau melakukan vaksin perdana karena untuk memberikan keyakinan masyarakat Kendari bahwa apa yang dilakukan pemerintah adalah langkah terbaik dan telah dilakukan proses matang.

"Mudah mudahan seluruh masyarakat Kendari, bersama-sama jadikan program vaksinasi ini sebagai pintu keluar dari ujian dan cobaan COVID-19 yang terjadi hampir sepanjang tahun 2020," katanya.

Program ini kata Sulkarnain, dilakukan secara bertahap, karena banyak masyarakat yang sudah nyatakan siap divaksin, tetapi karena program melalui pembagian dosis vaksin yang masih terbatas dan sudah jelas peruntukannya untuk tahap pertama yakni tenaga kesehatan.

Wali kota juga mengaku, saat mendapat suntikan vaksin tersebut tidak ada sesuatu keanehan yang dirasa karena pada dasarnya sama saat menjalani donor darah atau saat disuntik biasa.

"Saya kan sering ikut donor maka tidak takut dengan suntikan, bahkan selama saya disuntik baru suntikan vaksin ini yang hampir-hampir tidak terasa," katanya.

Tidak skeptis vaksinasi

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sulawesi Tenggara (Sultra) La Ode Rabiul Awal mengajak seluruh masyarakat agar tidak skeptis atau meragukan vaksinasi COVID-19.

"Saya harap betul-betul kecurigaan bahwa kualitas vaksin, keamanan vaksin, efektivitas vaksin, saya kira tidak perlu diragukan karena ini ujinya di berbagai negara," kata Rabiul.

Menurut dia, program vaksinasi COVID-19 langkah yang tepat dilakukan pemerintah dalam mengatasi pandemi yang kian hari angka kasusnya semakin meningkat.

"Sekarang cara alternatif mengatasi pandemi COVID-19 berdasarkan ilmu pengetahuan harus memang vaksin. Saya kira ini (vaksinasi) sudah keniscayaan ilmu pengetahuan dalam mengatasi pandemi ini," tutur dia.

Rabiul juga menyampaikan bahwa vaksinasi COVID-19 tidak perlu diragukan karena berdasarkan data hasil riset atau penelitiannya memang sudah dikemukakan bahwa vaksin tersebut memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization( WHO).

"Misalnya efikasi atau kemanjuran vaksin minimal 50 persen juga terpenuhi, dan dalam pengukuran imunogenitas kemampuan membentuk antibodi itu juga efektif," ujar Rabiul.

Ia berharap seluruh opini dan pandangan masyarakat bahwa vaksin COVID-19 berbahaya bisa berubah menjadi bermanfaat dalam penanganan pandemi virus corona.

Apalagi, lanjut Rabiul, vaksin tersebut juga telah mendapat izin dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) karena telah melalui uji klinis dan telah mendapat sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari Prof Dr Muhammad Zamrun menilai bahwa vaksin yang disuntikkan kepada para relawan di seluruh Indonesia dan di Sultra pada khususnya, sangat layak karena telah melalui proses pengujian yang panjang.

"Pada intinya semua produk yang dihasilkan secara ilmiah sudah melalui proses panjang mulai dari penelitiannya, meneliti sifat-sifatnya, bagaimana proses pembentukannya, kemudian uji cobanya," kata Prof Zamrun.

Ia mengaku, sebagai relawan pertama di lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara tidak memiliki keraguan atau merasakan apa-apa ketika disuntikkan vaksin, karena ia percaya vaksin tersebut layak digunakan.

"Saya tidak ragu tidak ada keraguan sama sekali makanya pertama kali waktu saya ditawarkan untuk menerima vaksin pertama di Sulawesi Tenggara saya dengan sigap menyatakan siap untuk divaksinasi," ujar Prof Zamrun.

Ia kemudian mengajak semua pihak agar menyukseskan program vaksinasi COVID-19 khususnya di provinsi itu dalam penanganan pandemi virus corona.

"Saya mengajak kepada semua agar menyukseskan program vaksinasi ini. Saya yakin dan percaya bahwa insya Allah tidak ada masalah," kata Prof Zamrun.

8.639 positif dan 167 meninggal

Tim Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Provinsi Sulawesi Tenggara menyampaikan sebanyak 8.639 orang di daerah itu dinyatakan terkonfirmasi positif virus corona dan sebanyak 167 dinyatakan meninggal akibat terinfeksi virus tersebut per 14 Januari 2021.

Juru Bicara Satgas COVID-19 Sultra La Ode Rabiul Awal mengatakan data tersebut tersebara di seluruh 17 kabupaten/kota di provinsi itu.

Sementara jumlah pasien terkonfirmasi positif COVID-19 yang dinyatakan sembuh sebanyak 7.305 orang dan 1.167 orang masih menjalani perawatan isolasi atau karantina.

Ia mengingatkan bahwa saat ini penyebaran virus COVID-19 di provinsi itu masih terjadi, ditandai dengan masih adanya penambahan kasus terkonfirmasi positif baru.

Oleh karena itu, ia menilai bahwa upaya pemberian vaksinasi langkah yang tepat dilakukan pemerintah dalam menangani pandemi COVID-19.

Disiplin protokol kesehatan

Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Ali Mazi mengingatkan kepada semua pihak agar tetap menaati protokol kesehatan 3M memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan meskipun telah ada vaksin COVID-19.

"Saya berpesan kepada kita semua, tetap patuhi protokol kesehatan dalam melaksanakan aktivitas sosial sehari-hari," katanya.

Menurut dia, meskipun para relawan telah disuntikkan vaksin COVID-19, tetapi disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan juga sangat penting demi menjaga diri sendiri, keluarga dan orang lain dari virus corona.

"Tetap jaga diri, keluarga dan masyarakat untuk kesehatan, keselamatan dan kebaikan bersama," tutur Ali Mazi.

Pada kesempatan itu, ia menyampaikan bahwa vaksinasi COVID-19 sangat penting dilakukan guna memutus penyebaran COVID-19 khusus di provinsi itu sehingga semua aktivitas bisa berjalan normal.

Senada dengan itu, Wali Kota Kendari Sulkarnain Kadir juga meminta warga setempat tetap patuh melaksanakan protokol kesehatan dalam aktivitas sehari-hari meskipun vaksinasi COVID-19 saat ini sudah dimulai.

"Saya meminta masyarakat tetap disipilin 3M, yakni menggunakan masker mencuci tangan dan menjaga jarak," kata Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir.

Ia mengatakan, dosis vaksin yang diterima Kota Kendari saat ini hanya sekitar 2 persen dari jumlah penduduk di kota tersebut, sehingga ia menegaskan agar tetap meningkatkan kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan.

"Intinya tetap gunakan masker meskipun ada vaksin, harus tetap disiplin, karena ini populasi yang akan mendapatkan vaksin masih kecil baru 2 persen dari masyarakat Kota Kendari. Kecuali Kalau sudah 90 persen warga yang divaksin baru kita tinjau kembali protokol kesehatan," ujar Sulkarnain Kadir.

Sementara itu, Juru Bicara Satgas COVID-19 Sultra La Ode Rabiul Awal, mengatakan saat ini penyebaran virus COVID-19 di provinsi itu masih terjadi, ditandai dengan masih adanya penambahan kasus terkonfirmasi positif baru

Oleh karena itu, ia meminta kepada semua pihak yang menjalankan aktivitasnya agar mentaati protokol kesehatan.

Meskipun sudah ada vaksin, belum semua warga disuntik. Karena itu, kita tetap harus menaati protokol kesehatan, utamanya 3M di dalam beraktivitas, yakni memakai masker, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir. Ini penting agar kita bisa menekan angka kasus COVID-19.

Pewarta : Muhammad Harianto
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar