Bupati Nunukan berkoordinasi dengan Pusat tangani banjir Sembakung

id banjir, sembakung, kiriman malaysia, nunukan

Bupati Nunukan berkoordinasi dengan Pusat tangani banjir Sembakung

Banjir yang menggenangi rumah warga di Kecamatan Sembakung Kabupaten Nunukan.

Nunukan (ANTARA) - Bupati Nunukan Hj Asmin Laura Hafid di Nunukan, Rabu, menyatakan akan berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat dalam penanganan banjir "impor" di Sembakung
karena berkaitan dengan negara lain.

Pada saat koordinasi nantinya perlu dicarikan solusi agar masyarakat di Kecamatan Sembakung tidak selalu menjadi korban dari banjir kiriman itu

Banjir yang melanda Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan, Kaltara, terjadi setiap tahun akibat meluapnya Sungai Pansiangan yang berhulu di Negeri Sabah, Malaysia.

Warga setempat dan Pemkab Nunukan menilai banjir yang menenggelamkan ribuan rumah ini dikenal sebagai banjir "impor" dari negara tetangga Malaysia.

Baca juga: Bupati Nunukan kerahkan perusahaan bantu korban banjir Sembakung

Baca juga: Ribuan warga Sembakung terdampak banjir kiriman dari Malaysia


Selain itu, koordinasi dengan Pusat juga berkaitan dengan penanganannya yang membutuhkan anggaran besar sementara pemerintah daerah tidak mampu menalangi semuanya.

"Penanganan banjir kiriman dari Malaysia yang berlangsung di Sembakung setiap tahun ini perlu dicarikan solusi oleh Pemerintah di pusat karena berkaitan dengan negara lain," ujar Laura.

Kemudian, Bupati Nunukan juga menyinggung soal anggaran penanganan bagi masyarakat terdampak yang mencapai ribuan keluarga tersebut ditambah sejumlah fasilitas umum seperti sekolah dan perkantoran yang memerlukan dana cukup besar sehingga perlu intervensi pusat.

Informasi yang diperoleh dari Ketua Kampung Siaga Bencana (KSB) Sembakung Abdullah menyebutkan sebanyak delapan desa dan 1.552 keluarga dan 5.682 jiwa yang terdampak banjir kiriman dari negara tetangga.*

Baca juga: Bupati Nunukan: Waspadai banjir kiriman dari Malaysia

Baca juga: BPBD: Banjir rendam empat kecamatan di Nunukan

Pewarta : Rusman
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar